JAKARTA - Meletusnya kerusuhan di Musi Rawas, Sumsel, sangat disesalkan. Apalagi kerusuhan itu terjadi menjelang ajang pemilihan gubernur di mana salah satu calonnya adalah perwira tinggi Polri.
“Dengan adanya kerusuhan ini dikhawatirkan menjadi "kampanye hitam" bagi cagub dari Polri hingga akhirnya yang bersangkutan tidak dipilih oleh masyarakat,” ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane melalui keterangan tertulis kepada Okezone di Jakarta, Rabu (1/5/2013).
Bagaimana pun, menurut Neta, kerusuhan itu sudah memicu kejengkelan, kebencian, dan kemarahan masyarakat terhadap polisi. Apalagi dalam peristiwa itu ada empat orang tewas yang diduga tertembak peluru tajam.
Menjelang Pilgub Jabar beberapa waktu lalu, kerusuhan juga sempat pula terjadi di Universitas Pamulang Tangerang. Puluhan mahasiswa mengalami luka-luka dipukuli polisi. Akibat peristiwa ini banyak pengamat yang memprediksi bahwa para cagub dari polisi akan kalah di Pilgub Jabar. Akibat hal ini, Wakapolri yang hendak maju jadi cagub mendadadak mundur. Sementara perwira tinggi Polri yang tetap maju hanya mendapat nomor buncit.
Bercermin dari kasus di Jawa Barat, Indonesia Police Watch berharap aparat kepolisian lebih bisa menahan diri dalam menghadapi potensi konflik di masyarakat dan tidak bersikap arogan serta represif, terutama menjelang Pilkada di mana perwiranya ikut dalam pencalonan.
“Meletusnya kerusuhan yang membawa korban akan menjadi kampanye buruk bagi polisi yang ikut pilkada. Padahal keikutsertaan anggota polisi dalam Pilkada sangat penting dan bisa menjadi tolok ukur bagi peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap Polri,” terang Neta.
Berkaitan dengan kerusuhan Musi Rawas, IPW mendesak Komnas HAM dan Propam Mabes Polri segera mengusut tuntas kasus ini, terutama mengenai adanya empat orang yang tewas akibat tertembak peluru tajam.
Penggunaan peluru tajam dalam penanganan konflik di masyarakat melanggar SOP Polri. Untuk itu, pelakunya harus ditindak dan dihukum berat. Selain itu, penanganan kerusuhan di Musi Rawas tidak sesuai SOP Polri karena tidak adanya water canon dan gas air mata dalam pengendalian massa.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.