JAKARTA – Belakangan ini, kita sering disuguhkan dengan istilah-istilah baru dan aneh dalam berkomunikasi. Ironisnya, istilah yang memelesetkan kata dari Bahasa Indonesia ini seakan menjadi kebiasaan atau gaya hidup sekelompok anak muda yang biasa disebut Alay.
Misal saja, sering kita mendengar kata lambat diubah menjadi lambreta, barangkali menjadi keles, banget menjadi bingit, memang menjadi emberan, remaja wanita gaul menjadi cabe-cabean, dan lain sebagainya. Semua itu kini menjadi istilah baru dalam percakapan anak muda. Celakannya, istilah ini juga sudah menjadi bahasa tulisan di jejaring sosial yang dianggap sudah lumrah.
Menyakapi hal ini, pemerhati Bahasa Indonesia, Eko Endarmoko, menilai, fenomena bahasa gaul seperti ini sudah lama terjadi. Menurutnya, hal ini hanya bersifat temporer yang suatu saat akan hilang dengan sendirinya. Sayangnya, saat istilah lama tenggelam, muncul istilah baru yang makin mengikis Bahasa Indonesia sebenarnya.
“Fenomena ini sudah lama terjadi. Hal ini tidak menjadi masalah kalau hanya sebatas percakapan, tetapi menjadi bahaya kalau sudah menjadi tulisan, karena pengaruhnya akan lebih besar,” kata Eko saat berbincang dengan Okezone, Selasa (18/3/2014).
Menurut Eko, maraknya fenomena ini sangat memprihatinkan. “Boleh dikatakan kita mengalami darurat bahasa,” tandasnya.
Perlu diketahui bersama, sejarah terciptanya Bahasa Indonesia tidaklah mudah. Prosesnya cukup panjang diiringi dengan perjuangan para pendahulu. Dimana Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dan berikrar menjunjung bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda.
Unsur dari Sumpah Pemuda ini merupakan tekad bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa. Pada tahun 1928 itulah, Bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional.
Lantas, haruskah Bahasa Indonesia yang sejarahnya begitu panjang terkikis sedikit demi sedikit dengan istilah baru yang awalnya dianggap biasa tetapi lama-lama menjadi kebiasaan yang dimaklumi?
(TB Ardi Januar)