ANKARA – Pemerintah Turki mencurigai kelompok militan ISIS dan kelompok ekstrem kiri sebagai pihak yang bertanggung jawab atas ledakan bom bunuh diri di depan stasiun pusat Ankara, Sabtu 10 Oktober 2015. Dua ledakan yang terjadi di tengah aksi damai aktivis pro Kurdi dan kelompok buruh itu menewaskan sedikitnya 95 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya.
Sampai saat ini belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa bom Ankara tersebut. Namun, Perdana Menteri (PM) Ahmed Davutoglu menyebut ISIS, Kurdi, atau militan ekstrem kanan sebagai pihak-pihak yang diduga melakukan pengeboman.
Pemerintah telah mengidentifikasi seorang pria berusia antara 25 sampai 30 tahun sebagai pelaku pengeboman dari hasil analisa yang dilakukan di TKP. Seorang pelaku lainnya masih belum diketahui.
“Pekerjaan yang diperlukan tengah dilakukan untuk mengidentifikasi siapa saya yang berada dibalik serangan ini dan mengadili mereka secepatnya,” demikian pernyataan dari kantor PM Turki, sebagaimana dilansir The Guardian, Minggu (11/10/2015).
Saksi mata mengungkapkan bahwa kedua ledakan terjadi hanya berselang beberapa detik di tengah massa simpatisan dan aktivis dari berbagai partai. Ledakan itu mengenai kerumunan massa yang terdiri dari para pendukung kelompok pro Kurdi, serikat buruh, partai kiri, dan kelompok-kelompok sosial masyarakat lainnya yang sedang menjalankan aksi memprotes kematian ratusan orang akibat konflik antara Ankara dan dan militan Partai Pekerja Kurdi (PKK) yang kembali berlanjut.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.