PORT AU PRINCE – Ribuan demonstran anti-pemerintah di Haiti menggelar unjuk rasa yang berujung kerusuhan setelah proses pemilihan presiden di Negara Karibia itu ditunda. Pengunjuk rasa membakar barikade ban dan memecahkan kaca-kaca jendela menimbulkan asap hitam di Ibu Kota Port Au Prince.
Para demonstran menuntut dilangsungkannya pemilihan baru dan lengsernya Presiden Michel Martelly yang telah menjabat sejak 2011. Demikian dilaporkan Telegraph, Minggu (24/1/2016).
Kerusuhan ini memicu reaksi dari dunia internasional yang meminta warga Haiti untuk tenang sementara Pengamat Pemilu PBB dan komunitas internasional mendesak politisi negara itu untuk mencair penyelesaian untuk kebuntuan yang dikhawatirkan berkembang menjadi krisis konstitusional.
Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon menyatakan keprihatinannya akan penundaan ini. Dia meminta warga Haiti untuk bekerja ke arah “penyelesaian proses pemilihan dengan cara yang damai.”
Pemerintahan baru Haiti harus mulai memerintah pada 7 Februari 2016, tapi otoritas pemilihan umum mengatakan tidak mungkin mereka bisa memenuhi tenggat waktu untuk memilih presiden baru. Tidak diketahui apakah pemerintahan interim akan dibentuk atau tidak.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.