Image

Ujian Kesetiaan Cinta di Tanah Suci

Sejumlah jamaah haji Indonesia saat berada di Jamarat, Mina. Foto Mohammad Saifulloh/Okezone

Sejumlah jamaah haji Indonesia saat berada di Jamarat, Mina. Foto Mohammad Saifulloh/Okezone

MAKKAH – Telapak tangan Mohammad Ihsan (69) tak henti-hentinya menggosok punggung istrinya, Astatik Muniroh (64) di Hotel Holiday Inn, pemondokan jamaah haji Indonesia di sektor 4, Aziziah, Makkah, malam itu.

Sejak tiba dari Madinah, kondisi kesehatan Muniroh drop, penyakit diabetesnya kambuh sehingga kaki kanannya tak bisa berjalan normal. Kondisinya terus memburuk hingga telapak kakinya harus diperban dan dibungkus tas kresek warna putih.

“Darahnya gak berhenti-berhenti keluar mas,” ujar Ihsan sembari membuka handuk kecil yang menutupi kaki istrinya. Terlihat sekujur kaki yang bengkak dan menghitam, warna merah darah pun terlihat begitu jelas dari balik kresek warna putih di bagian telapak kaki. “Saya sudah pasrah dikasih penyakit seperti ini,” Muniroh menimpali.

Selain luka di kaki, nenek dua cucu ini mengeluh tak bisa tidur lantaran rasa ngilu di punggungnya yang acapkali menyergap terutama saat malam. Sentuhan tangan sang suami menjadi semacam penenang agar kantuknya hinggap. Ya, usia pernikahan mereka tak lagi muda, sudah 43 tahun lamanya. Namun, kesetiaan sebagai pasangan hidup justru semakin membuncah kala melaksanakan ibadah haji bersama. Layaknya pasangan muda, terkadang Ihsan menyuapi istrinya agar mau makan.

Sebelum ritual puncak haji, Ihsan yang berprofesi sebagai penjahit memang sempat mengeluh ihwal kondisi istrinya yang tak bisa berjalan normal. Penyakit diabetes juga membuat emosi sang belahan jiwa acapkali tak stabil. Beruntung dia dikaruniai kesabaran hingga tetap bisa menjaga harmoni selama di tanah suci.

“Dos pundi ngih mas, tiyang budal kaji kan kudune bungah, tapi kondisine garwo kulo kados ngenten (Bagaimana ya mas, harusnya orang pergi haji kan bahagia, tapi kondisinya seperti ini,” ujarnya.

Ihsan memang tak bisa bebas beribadah ke Masjidil Haram dan jalan-jalan keliling Makkah seperti jamaah lainnya lantaran harus selalu menunggui sang istri.

Rasa khawatir tak bisa melaksanakan rangkaian ibadah haji secara paripurna juga sempat hinggap di benak Ihsan melihat kondisi istrinya. Ditambah lagi keduanya sempat nyaris kehabisan uang saku karena kebutuhan mendadak. Beruntung, ikhtiar putri tunggalnya di Tanah Air untuk mengirim bekal tambahan membuahkan hasil.

Semangat untuk melakoni panggilan Allah berhaji pun kembali menyala. Kursi roda untuk sarana penunjang mobilitas sang istri berhasil didapat. Ia pun meyakinkan sang istri melakoni ritual haji yang panjang dan melelahkan secara bersama-sama.

Ihsan menuturkan, selama wukuf di Arafah semuanya baik-baik saja. Panas yang menerjang dianggap angin lalu saja lantaran sudah terbiasa hidup dengan cuaca panas di kampungnya, Geluran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Ujian pertama justru ketika Ihsan dan istrinya turun dari bus di Muzdalifah bersama hampir 1,8 juta jamaah haji dari seluruh dunia. Kursi roda yang didorong dari jalan raya menuju area mabit (menginap) terasa sangat berat bahkan tak bisa berputar karena rodanya ambles di medan berpasir. Kendati demikian, dia tak menyerah. Keteguhan hati Ihsan akhirnya berbuah pertolongan. Jemaah lain yang iba berebut mengulurkan tangan, mereka membantu mendorong kursi roda, sementara Ihsan mengangkat kursi roda dari depan agar bisa terangkat.

(fzy)
TAG : cinta
1 / 2
Live Streaming
Logo
breaking news x