MARAWI – Militer Filipina menutup Kota Iligan yang menjadi tujuan utama para pengungsi dari Marawi yang masih menjadi ajang pertempuran antara pasukan pemerintah dengan kelompok militan Maute. Tindakan itu dilakukan karena kekhawatiran adanya militan yang menyusup keluar dari Marawi di tengah konflik yang berlangsung.
“Kami tidak ingin apa yang terjadi di Marawi melebar ke Iligan. Kami ingin memastikan keselamatan warga di sini, mencegah elemen militan masuk dan melakukan aktivitas terorisme,” kata Kepala Batalion Infanteri Mekanis Filipina, Kolonel Alex Aduca sebagaimana dilansir Reuters, Senin (29/5/2017).
Sebagian besar penduduk Marawi telah meninggalkan kota itu dan banyak dari mereka mengungsi ke Iligan yang berjarak 38 kilometer dari Marawi. Aduca mengatakan, beberapa pemberontak telah tertangkap berusaha masuk ke Iligan, tetapi dia tidak memberikan keterangan lebih detil.
Setidaknya 61 militan, 20 pasukan keamanan dan 19 warga sipil telah tewas di Marawi sejak pertempuran pecah pada Selasa, 23 Mei lalu. Pertempuran di kota itu menjadi tantangan keamanan terbesar yang dihadapi Presiden Filipina, Rodrigo Duterte sejak memerintah 11 bulan lalu.
Presiden berjuluk Digong itu telah memberlakukan status darurat militer selama 60 hari di Marawi dan seluruh Pulau Mindanao. Duterte mengatakan akan memperpanjang status itu dan memperluasnya ke seluruh Filipina jika diperlukan.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.