SBY Akan Bicara Soal Pejabat Negara yang KKN

Amirul Hasan, Jurnalis
Jum'at 26 Juni 2009 17:29 WIB
Share :

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku akan berbicara mengenai pejabat negara yang melakukan kolusi dan nepotisme. Pernyataan ini disampaikan merespon banyaknya serangan terhadap dirinya.

Dalam pernyataannya di salah satu surat kabar dua hari lalu, SBY dianggap akan membatasi kewenangan dan kekuasaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Saya akan bicara lagi kapan-kapan soal kembali munculnya kolusi dan nepotisme yang menyangkut pejabat negara," ujar SBY sebelum membuka peringatan Hari Anti Narkoba di Gelora Bung Karno, Jumat (26/6/2009).

Menurut SBY, saat ini tengah muncul kembali iklim kolusi dan nepotisme di antara pejabat negara yang tengah berkuasa. Jika hal ini dibiarkan, Indonesia akan kembali mengalami krisis seperti sebelas tahun silam.

"Tidak bisa kita tolerir di negeri tercinta ini. Kalau kita biarkan kembali seperti era dulu, negara kita krisis lagi," tegas SBY.

Belum dapat dikonfirmasi apakah pernyataanya ini menyindir salah satu calon presiden nomor urut tiga, Jusuf Kalla atau tidak. Pasalnya, meski tidak menyebut nama, dalam kampanye perdana di Pekan Raya Jakarta, SBY pernah menyindir bisnis keluarga pejabat yang dianggap bisa mengembalikan Indonesia ke jurang krisis.

Sebagaimana diketahui, selain sebagai wakil presiden, Jusuf Kalla adalah seorang pengusaha sukses. Keluarganya juga memiliki jaringan bisnis cukup luas di berbagai sektor.

SBY merasa, saat ini banyak pihak yang menggulirkan isu-isu tidak benar kepada publik. Karenanya dia meminta pihak-pihak itu, untuk tidak memutar balikkan fakta seolah-oleh pemerintah tidak sungguh-sungguh, dalam penegakkan hukum dan pemberantasan korupsi.

"Tidak baik, mari kita menjaga satunya kata dengan perbuatan. Jangan karena kampanye pilpres lantas ada sesuatu yang sesunggunya tidak begitu yang terjadi selama ini," tukasnya.

(Dede Suryana)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya