MAKASSAR - Kawasan Mamminasata (Makassar, Sungguminasa Gowa, Maros, dan Takalar) akan terendam air laut pada kurun waktu 40 tahun ke depan. Hal tersebut merupakan hasil riset peneliti Universitas Hasanuddin (Unhas).
Hal tersebut diungkapkan para peneliti dalam seminar yang diselenggaran Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) regional Sulawesi, Maluku dan Papua (Sumapapua) di Makassar, Rabu (28/10/2009).
Sang peneliti, Amran Ahmad, mengkaji dampak kenaikan air laut terhadap wilayah pesisir Mamminasata. Menurutnya, luas wilayah yang akan terendam genangan air laut di empat kabupaten tersebut setara dengan 25 ribu luas lapangan sepak bola.
Wilayah Makassar yang kemungkinan tidak akan berupa daratan lagi pada 2050 di antaranya kawasan Tanjung Bunga, Barombong, Bayang, dan sejumlah pulau-pulau kecil di lepas Pantai Makassar akan tenggelam.
Sementara di kawasan Kabupaten Maros, sejumlah perkampungan yang akan terendam di antaranya Mangarabombang, Panaikang, Sabunga, dan Kurilompoa. Daerah Takalar terbilang cukup banyak yang akan terendam air akibat naiknya permukaan air laut.
Dari hasil riset yang dilakukannya, kata Amran, rata-rata kenaikan air pasang di tiap-tiap daerah adalah 30 hingga 45 centimeter selama sekali dalam dua bulan. Puncak kenaikan air pasang tertinggi akan terjadi pada bulan Desember dan kenaikannya mencapai dua kali lipat. Genangan air tersebut akan merendam wilayah pemukiman, tambak, kawasan pertanian dan perkebunan, ujarnya.
Amran menaksir besarnya kerugian akibat rendaman pada lahan-lahan tersebut di empat kabupaten berkisar Rp1,4 trilyun. "'Itu hanya untuk lahan saja, belum menghitung bangunan perumahannya," katanya.
Amran berharap, pemerintah daerah setempat segera dapat beradaptasi dengan perencanaan pembangunan wilayahnya. Menurutnya hal itu termasuk peruntukan lahan serta alokasi anggaran pembangunan. "Mau tidak mau, adaptasi harus dilakukan karena kondisi naiknya permukaan air laut akan terjadi dan tidak bisa dihambat lagi," tegasnya.
Amran mengakui, kenaikan permukaan air laut akibat pengaruh pemanasan global itu akan terjadi perlahan-lahan. Harapannya, dengan hasil riset ini dapat membantu pemerintah melakukan adaptasi-terkait masalah pembangunan.
Amran meminta pemerintah setempat melakukan langkah adaptasi dengan merelokasi pemukiman dan areal tambak. Khusus wilayah pemukiman, menurutnya, dari sejak sekarang perencanaannya harus tepat.
Alasannya, jika kenaikan air laut terjadi, akan banyak habitat dan biota laut yang akan muncul ke daratan dan perlu penanganan yang tepat. ''Karena setiap biota yang diciptakan, memiliki fungsinya masing-masing, jangan sampai ditangkap manusia karena merasa itu adalah hewan aneh,'' ujarnya.
(Muhammad Saifullah )