Seliweran Uang Napi di Rutan Pondok Bambu

Yavet Ola Masan, Jurnalis
Rabu 13 Januari 2010 17:17 WIB
Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur. (Foto: Fabian Januarius Kuwado/okezone)
Share :

JAKARTA - Ujar-ujar "Uang pegang peranan" tidak hanya berlaku di lingkungan masyarakat awam. Siapa sangka jika di balik jeruji pun ujar-ujar tersebut juga berlaku.

Contohnya saja Rutan Pondok Bambu, rumah tahanan yang baru saja dihebohkan dengan fasilitas mewah yang didapatkan oleh terpidana kasus penyuapan Jaksa Urip Tri Gunawan, Artalyta Suryani alias Ayin, beberapa waktu lalu.

Okezone mendapati, jangankan untuk sekaliber Ayin, penghuni napi dengan kejahatan kecil pun harus merogoh kantong, untuk menjamin keberadaannya di balik bui.

Sebut saja, Pian (28), warga Cilincing, pengunjung Rutan Pondok Bambu yang kakaknya, Leha, menjadi penghuni Rutan Pondok Bambu, saat ditemui okezone di sekitar Rutan Pondok Bambu, Rabu (13/1/2010).

Setiap minggu, keluarganya wajib membayar Rp25 ribu untuk menjamin kakaknya mendapatkan kamar. Di dalam rutan sendiri, Leha diwajibkan bekerja. Leha bekerja dengan membuat tas mote yang terbuat dari manik-maik.

Lain lagi dengan Firman, yang anak laki-lakinya juga menghuni Rutan itu. Menurutnya, setiap menjeguk anaknya, dia dikenakan biaya Rp150 ribu. Biaya itu harus diberikannya, usai waktu jenguk berakhir. Firman menitipkan "pajak" itu kepada anaknya untuk diberikan ke petugas.

Secara resmi, diakui Firman, biaya kunjungan itu memang tidak ada. Namun dia tidak bisa menolaknya. "Mau bagaimana lagi," ujarnya.

Hal berbeda dialami oleh Abdullah. Pria paruh baya yang istrinya berada di balik jeruji rutan, malah mengaku tidak dikenakan biaya sepeser pun. Biaya jenguk, maupun biaya kamar.

"Ini kebetulan. Karena yang lain harus bayar," ujarnya.

Abdullah sendiri tidak tahu mengapa dirinya, tidak dikenakan biaya tetek bengek yang mungkin membuat orang lain mengurut dada.

Beberapa informasi yang dia peroleh, biaya pindah kamar sebesar Rp200-500 ribu. Kemudian, keluarga yang berkunjung harus memberi tips pada petugas sekira Rp5.000-10.000.

"Uangnya diselipkan ke bungkus rokok, atau kotak biskuit," ungkapnya.

Ketiganya mengakui, jika "pajak" tersebut sudah menjadi rahasia umum, dan tidak bisa dihindari bagi penghuni rutan dan keluarganya. Mereka tak mengungkapkan bagaimana jika, penghuni rutan menolak pungutan liar tersebut. Yang mereka tahu, pungutan tersebut sudah menjadi kewajiban para penghuni rutan.

Jika perilaku pengurus rutan ini sudah menjadi kebiasaan, tak heran Ayin Cs yang mungkin punya 'berkarung-karung' uang akan tetap merasa nyaman dengan kamar barunya di Rutan Pondok Bambu.

(Hariyanto Kurniawan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya