TANGERANG - Ketua Badan Pengurus Setara Institute for Democracy and Peace, Hendardi, mengaku sudah sering mendapatkan teror dan ancaman pembunuhan sejak zaman Orde Baru (Orba) hingga kini.
"Kalau soal teror dan ancaman, ini hal yang saya kira sudah saya alami puluhan tahun selama saya berkiprah sejak zaman Orba sampai sekarang," ujarnya, saat dihubungi okezone, Sabtu (19/3/2011).
Kendati begitu, Hendardi mengaku tidak gentar. Dia berkomitmen akan tetap bekerja memperjuangkan apa yang selama ini sudah dikerjakannya bersama teman-temannya sesama aktivis HAM.
"Ini tidak akan menggetarkan saya dan kawan-kawan untuk tetap bekerja memperjuangkan apa yang selama ini kami perjuangkan," jelas mantan Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) itu.
Hendardi menjelaskan, teror paket bom buku yang terjadi saat ini sedang menjadi tren. Namun saat ditanya apakah ada kaitan teror bom di rumah dengan aktivitas yang dilakukannya bersama rekan-rekannya Hendardi membantahnya.
"Saya sudah tidak memegang kasus. Sudah lama saya tidak melakukan itu," beber mantan anggota tim pencari fakta tewasnya aktivis HAM Munir tersebut.
Jumat sore, sekira pukul 17.30 WIB, rumah Hendardi di Jalan Perkici, Blok EB 2-E4, Sektor V, Bintaro, Kelurahan Jurangmangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dikirimi paket berisi buku dan satu keping DVD tentang jihad oleh orang tidak dikenal. Paket itu akhirnya diledakkan tim Gegana dari Mabes Polri.
(TB Ardi Januar)