Kasus Freeport, Mesuji & Surat Palsu MK Jadi Catatan Buruk Kinerja Polri

Rizka Diputra, Jurnalis
Jum'at 23 Desember 2011 09:08 WIB
Ilustrasi
Share :

JAKARTA - Kinerja Polri di 2011 menunjukkan grafik peningkatan positif dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Indikatornya adalah terbukti Polri berhasil mengungkap sejumlah kasus terorisme, narkoba, korupsi, dan sejumlah kasus kriminal besar lainnya.

Demikian Evaluasi Akhir Tahun 2011 yang disampaikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta Satti Pane.

Menurut Neta, dari sisi politik, di sepanjang 2011, Polri terlihat cukup netral. Netralitas tersebut terlihat dari sistem pengamanan yangg dilakukan Polri dalam berbagai perhelatan Pilkada di sejumlah daerah. Meski dalam pengamanan Pilkada, polisi terkadang lengah dalam pendeteksian dini dari intelijen yang kurang maksimal, sehingga proses Pilkada sering diwarnai konflik dan anarkis.

"Dengan adanya kasus-kasus bentrokan polisi dengan rakyat di berbagai tempat, seperti di Freeport, Mesuji maupun tempat lain, persepsi masyarakat terhadap Polri menjadi negatif. Pemihakan yang berlebihan terhadap perusahaan-perusahaan besar yang dilakukan polisi-polisi yang bertugas di lokasi-lokasi pertambangan dan perkebunan membuat Polri tidak profesional dan tidak proporsional," terang Neta dalam siaran pers kepada okezone, Jumat (23/12/2011).

Kemampuan Polri dalam mengungkap sejumlah kasus kriminal umum di 2011 menurutnya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni di bawah 60 persen, sementara kemampuan mengungkap kasus-kasus ranmor masih di bawah 10 persen.

"Kekecewaan masyarakat terlihat ketika Polri tidak serius mengungkap kasus-kasus di institusi negara, seperti kasus pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi (MK), kasus KPU yang melibatkan Ketua KPU, dan lain-lain. Sikap lamban juga diperlihatkan polisi dalam menangani kasus pembantaian orangutan dan kasus ambruknya Jembatan Kutai Kartanegara," paparnya.

Dari evaluasi 2011 ini IPW pun berkesimpulan bahwa prospek penegakan hukum 2012 yang akan dilakukan Polri diperkirakan belum banyak berubah. Sebab lanjut dia,  proses reformasi Polri masih berjalan lamban. Di sisi lain Polri masih mempertahankan pola-pola lama, yakni tidak transparan dan diskriminatif. Orang kecil dengan kasus kecil sangat cepat ditangani polisi, sedangkan orang besar dengan kasus besar sangat lamban diproses polisi.

"IPW berharap, di tahun 2012 Kapolri lebih memperhatikan kinerja kepolisian di Jakarta yang belakang ini kian rawan dengan maraknya peristiwa kriminal. Kapolri perlu juga memperhatikan hilangnya patroli dari tempat-tempat rawan dan strategis di kota-kota besar terutama Jakarta," kata Neta.

Jajaran Polisi Lalulintas pun menurutnya perlu mendapat pengawasan ekstra ketat dari ulah sejumlah oknum yang melakukan penjebakan-penjebakan di jalan raya. "Lalulintas harus terus menerus dibenahi, mengingat lalulintas adalah etalase Polri, sementara kemacetan di kota-kota besar makin parah, seperti tidak ada upaya maksimal dari polisi untuk menanganinya," tutupnya.

(Rizka Diputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya