Masalah Jakarta Tidak Bisa Diselesaikan dengan Debat

, Jurnalis
Jum'at 04 Mei 2012 10:40 WIB
Share :

Pada 27 April 2012, Universitas Indonesia, menggelar acara debat calon gubernur DKI Jakarta, 2012-2017, dari semua calon gubernur hanya pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang tidak hadir. Tentu dari semua calon gubernur, dengan kapasitas masing-masing, mereka pasti berjanji dan berbusa-busa mengemukakan gagasan membangun Jakarta dengan secepat-cepatnya dan semanusiawi-manusiawinya.

Namun apakah membangun Jakarta selesai dengan hanya berdebat? Tentu tidak. Membangun Jakarta tidak selesai hanya dengan berdebat. Membangun Jakarta harus kerja keras, bertahap, dan memahami karakter Jakarta secara menyeluruh. Gubernur Jakarta bukan Bandung Bondowoso yang bisa membangun 999 candi dalam semalam. Membangun Jakarta dengan waktu yang sangat cepat, 3 tahun misalnya, sepertinya omong kosong. Membangun Jakarta dengan pengalaman yang dimiliki saat sukses membangun daerah di kampungnya, juga belum menjadi jaminan akan sukses di Jakarta.

Dalam berdebat tentu yang merasa pintar akan memaparkan ini dan itu. Namun kepintaran itu bukan menjadi jaminan ia akan menang dalam pilkada. Banyak contoh, yang pintar dalam berdebat, sering gagal dalam pilkada bahkan pilpres. Karena pemilihan itu baik kepala daerah dan atau presiden, ditentukan bukan oleh pintarnya calon namun oleh pilihan rakyat. Saat debat Pilkada Banten, bisa jadi pasangan Atut-Rano Karno kalah dengan pasangan lain, namun karena rakyat memilih dia, maka Atut yang incumbent berhasil memenangi Pilkada Banten. Demikian pula, apa kurangnya Jusuf Kalla saat debat Pilpres 2009, namun karena rakyat memilih SBY, maka kepiawaian Jusuf Kalla dalam berdebat seolah-olah tidak ada artinya. Segmentasi kaum terpelajar dalam demokrasi kita masih kecil prosentasenya.

Apa yang membuat pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli tidak hadir? Sebagai gubernur yang masih menjabat, tentu Fauzi Bowo lebih memilih bekerja mengurusi masyarakat. Mengurus Jakarta harus serius sehingga hal-hal yang dirasa tidak ada faedahnya harus ditinggalkan. Ketidakhadiran pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi itu justru didukung oleh Jokowi. Ia mengatakan, "Bagus itu, malah bagus kalau nggak datang." Padahal kedatangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli ditunggu Jokowi. Untuk apa? Kenalan. "Tapi ya padahal saya ingin kenalan, kalau bisa," ujar Jokowi (Detik.com, 28 April 2012).

Ketidakhadiran Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli dalam acara itu bisa jadi acara itu terlalu elitis dan berada di wilayah di luar Jakarta. Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli memilih langsung terjun di tengah masyarakat. Terbukti saat Fauzi Bowo ditanya wartawan, ia mengatakan, “Saya didukung rakyat.” Bukti dari kedekatan dengan rakyat itu, ia memperoleh penghargaan sebagai Gubernur Pluralisme oleh The Gandhi Memorial International School.

Membangun Jakarta tidak hanya selesai dengan debat, sebab mengurus Jakarta itu tidak mudah. Dengan luas 740,3 km persegi dan populasi, data tahun 2010, sebanyak 9.607.787, tentu gubernur harus memikirkan berbagai masalah yang ada pada penduduk sebanyak itu dan hanya pada wilayah seluas itu, itu belum ditambah dengan penduduk yang datang dari Bekasi, Tangerang, Bogor, Depok, bahkan Purwakarta, dan Serang setiap hari yang menjadikan Jakarta sebagai tempat kerjanya.

Mengurus Jakarta lebih sulit daripada kepala pemerintahan Singapura, wilayah itu dengan luas 137 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 5 juta jiwa, bisa hidup dengan tertib, aman, dan nyaman, karena masyarakatnya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan berkualitas sehingga problem seperti kemacetan tidak terjadi.

Sedang masyarakat yang tinggal dan datang di Jakarta, tidak terfilter, siapa saja bisa masuk ke Jakarta, tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, dan tingkat pendidikan. Akibatnya dengan beragam latar dan kapasitas kepadatan yang tidak ideal itu menimbulkan berbagai problem di masyarakat, seperti penggangguran, kemiskinan, kriminalitas, dan lain sebagainya.

Jakarta dari waktu ke waktu problemnya akan semakin banyak dan besar. Setiap tahun, bahkan setiap hari, kita tidak sadar ribuan orang melakukan urbanisasi ke Jakarta untuk mengadu nasib. Ini bisa terjadi karena Jakarta masih menjadi sentral dari kekuasaan dan ekonomi sehingga semua masih menjadikan Jakarta sebagai tujuan pertama untuk mengadu nasib. Beban Jakarta akan berkurang bila banyak kota-kota di Indonesia setara dengan Jakarta, namun sepertinya hal yang demikian masih belum terjadi untuk saat ini.

Untuk itu membangun Jakarta perlu orang yang memahami Jakarta, bukan orang yang pintar berdebat, bukan pula yang hanya populis. Siapa yang memahami Jakarta? Ya orang yang telah meletakkan dasar-dasar pembangunan Jakarta yang telah disusunnya, dan itu harus diteruskan.

Ardi Winangun
Warga Matraman, Jakarta Timur

(M Budi Santosa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya