DAMASKUS – Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk konflik Suriah, Lakhdar Brahimi, dianggap gagal mencari penyelesaian terhadap konflik berkepanjangan di Suriah. Brahimi sebelumnya menemui pihak pemerintah dan oposisi Suriah untuk mengajak kedua belah pihak segera menghentikan konflik di negara itu.
“Bashar al-Assad tidak mau mendengarkan perkataan Brahimi. Pihak oposisi juga saat ini tidak mau berkompromi dengan pemerintah,” ujar seorang diplomat PBB yang tidak disebut namanya, seperti dikutip AFP, Kamis (27/12/2012).
“Kedatangan Brahimi ke Suriah tidak akan menghasilkan apa-apa, rezim Assad tetap akan melakukan pembantaian kepada rakyat Suriah,” sebut seorang aktivis di Suriah.
Para aktivis yang mengawasi jalannya konflik di Suriah menyatakan, jumlah warga yang tewas akibat konflik di negara itu saat ini telah mencapai 45 ribu orang. Serangan terbaru dilakukan oleh pasukan pemerintah di provinsi Raqa di wilayah utara Suriah. Dalam serangan tersebut pasukan pemerintah menghujani sebuah desa dengan tembakan meriam tank, menyebabkan setidaknya 20 warga tewas.
Walaupun dikritik banyak pihak, Brahimi akan tetap menjalankan upaya diplomasinya untuk menghentikan konflik Suriah. Sabtu 29 Desember mendatang, Brahimi dijadwalkan untuk berkunjung ke Rusia untuk menemui Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.
Brahimi berniat untuk meminta bantuan Rusia membujuk rezim Assad untuk mau berkompromi. Rusia selama ini menempatkan diri sebagai pendukung rezim Assad di Suriah. Negeri Beruang Merah itu meminta Suriah menjalani transisi politik tanpa harus menjatuhkan Assad.
Lakhdar Brahimi adalah diplomat senior yang berasal dari Aljazair. Brahimi menjadi utusan PBB untuk konflik Suriah menggantikan mantan sekretraris jenderal PBB Kofi Annan. Annan mundur dari posisi tersebut karena menganggap kedua belah pihak yang bertikai tidak memiliki niat kuat untuk menghentikan konflik yang telah terjadi sejak Maret 2011 tersebut.
(Fajar Nugraha)