Bemo yang Tergopoh di Tepi Zaman

Fahmi Firdaus & Rizka Diputra, Jurnalis
Senin 10 Juni 2013 10:57 WIB
Bemo (Foto: Hasiholan Siaahan/SINDO)
Share :

LENGUHAN suaranya nyaring bak deru mesin rumput. Asapnya mengepul tebal menyisakan kabut kehitaman. Tergopoh dengan tiga rodanya menyusuri semrawutnya jalanan Jakarta.

Meski 'terengah' melawan hegemoni angkutan massal moderen—Mikrolet atau Metrmini—Bemo masih diperkenankan beroperasi, walau hanya di pinggiran, seperti kawasan Manggarai, Jakata Selatan, Pejompongan, Jakarta Pusat, atau Olimo, Jakarta Barat.

“Saya berangkat ke Jakarta, menarik bemo sejak tahun 1976 hingga sekarang,” aku Asyikin, seorang supir Bemo di pangkalan Olimo, Jakarta Barat, kepada Okezone belum lama ini. Dia mengaku merantau ke Jakarta sejak berusia belia. Pria asal Slawi, Tegal, Jawa Tengah ini berharap kehidupan yang layak sekaligus mencukupi sandang, pangan dan papan sanak keluarganya di kampung halaman.

Pria yang kini berusia enam dasawarsa itu pun memutuskan pergi ke Jakarta dengan hanya berbekal restu orangtuanya. Sampai di ibu kota, dia menjatuhkan pilihan sebagai sopir Bemo. Ayah tujuh anak ini mengaku bangga dengan profesinya. Betapa tidak, satu dari tujuh putranya sudah ada yang menjadi anggota Brimob di Polda Metro Jaya, berkat kerja kerasnya.

”Saya juga tinggal dengannya sampai saat ini di kawasan Jakarta Pusat,” imbuh Asyikin sambil menghisap kreteknya dalam-dalam. “Anak saya sempat meminta saya berhenti menarik bemo”. Namun Asyikin membantah. Dia keukeuh terus bekerja karena sopir Bemo sudah menjadi mata pencahariannya sejak lama. Kendati setiap hari badannya harus berpeluh debu di bawah terik matahari ibu kota, Asyikin tidak pernah lelah memacu besi tuanya.

Sesekali tangannya mengusap keringat di dahinya yang mulai keriput. Namun pria berkulit cokelat pekat ini tetap semangat melanjutkan kisah tentang suka dukanya menjemput rezeki dari menarik Bemo.

Dia mengaku, setiap hari berangkat dari rumahnya menuju pangkalan di Jalan Olimo, Taman Sari, Jakarta Barat, pada pukul 05.00 WIB pagi dan pulang menjelang matahari kembali ke peraduan. Di sana, Asyikin bersama puluhan sopir bemo lainnya berkumpul mengais rupiah.

“Sekarang anak saya tidak pernah melarang, karena kalau saya banyak nganggur badan saya malah sakit,” ujar suami dari Nur Firdausi itu. Karenanya, Asyikin tak pernah patah arang meski jatah penumpangnya lebih sering diserobot angkutan umum lain yang lebih nyaman. Baginya, bemo sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tidak bisa lepas dari dirinya.

"Saya sewa Rp70 ribu per hari, pendapatan saya tidak menentu paling besar bisa mencapai Rp50 ribu lebih. Kami di sini juga tidak merasa tersaingi. Banyak warga yang memanfaatkan bemo. Trayek bemo saya Jalan Olimo sampai Jalan Pintu Air. Tarifnya dua ribu rupiah sekali jalan,” ungkapnya.

Untuk menjaga agar “benda keramatnya” itu tetap sehat dan tidak rewel keluar masuk bengkel, Asyikin juga rajin melakukan perawatan berkala. “Yang repot onderdilnya mas langka,” ujarnya dengan logat Tegalnya yang masih kental. Maklum saja, usia bemo itu sudah lebih 30 tahun lebih dan suku cadang kendaraan dibuat manual di tukang bubut atau kanibal memakan suku cadang Bemo lainnya.

Entah sampai kapan Asyikin menarik Bemo untuk menyambung hidup di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Dia berharap, agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta lebih memperhatikan lagi nasib ratusan sopir bemo di Jakarta. Karena masyarakat Jakarta masih membutuhkan kendaraan roda tiga ini di jalanan.

“Saya berharap agar Pak Jokowi dapat memperhatikan nasib kami. Karena kami tidak tahu sampai kapan akan terus narik bemo,” pinta Asyikin. Pak Jokowi, tertarikkah Anda naik bemo blusukan berkeliling Jakarta?

(Dede Suryana)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya