BALI - Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop dipenuhi pertanyaan mengenai dugaan penyadapan yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Namun Bishop mengatakan, pihaknya tidah bermaksud buruk terhadap Indonesia.
Di sela-sela mengikuti Bali Democracy Forum ke-VI, di Nusa Dua, Bali, Menlu Bishop sempat melakukan pertemuan dengan Menlu Marty Natalagewa. Bishop pun menegaskan hubungan kedua negara yang makin kuat, meskipun ada tuduhan penyadapan tersebut.
Meskipun Bishop menegaskan tidak ada masalah dalam hubungan kedua negara, tetapi reaksi yang ditunjukkan oleh Pemerintah Indonesia selama ini memperlihatkan ketegangan.
Bishop mengaku bahwa masalah penyadapan sempat muncul, namun dirinya menolak menjelaskan apakah penyadapan memang terjadi ataupun operasi penyadapan saat ini sudah dihentikan oleh Australia.
"Saya menyadari adanya kekhawatiran mengenai isu ini (penyadapan). Kami menanganinya secara serius," ujar Bishop, seperti dikutip The Australian, Jumat (8/11/2013).
"Saya memberikan jaminan kepada Menlu Natalegawa bahwa Pemerintahan (Perdana Menteri Tony) Abbott tidak bermaksud buruk dan merusak hubungan kedua negara yang makin erat," lanjutnya.
Bishop menambahkan hubungan Indonesia dan Australia merupakan prioritas utama dalam kebijakan luar negeri Pemerintah Abbott. Tetapi lagi-lagi Bishop enggan menjelaskan apakah benar Australia melakukan penyadapan ataupun sudah menghentikan penyadapan tersebut.
"Pemerintah Australia tidak memberikan komentar mengenai masalah intelijen," ucapnya.
Pemerintah Australia memang berhati-hati menanggapi pemberitaan tentang penyadapan yang dilakukannya di Indonesia. Pekan lalu, Duta Besar Australia Greg Moriarty juga bungkam ketika dipanggil Kementerian Luar Negeri terkait berita penyadapan.
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sebelumnya sempat menyuarakan ketidakpuasannya atas jawaban Australia mengenai penyadapan. Bahkan Menlu Marty pada Kamis 7 November 2013 menegaskan, kerjasama intelijen antara kedua negara bisa dievaluasi ulang.
(Fajar Nugraha)