EMPAT belas Februari merupakan hari kasih sayang, Valentine’s Day orang menyebutnya. Dianggap momen terindah untuk mengungkapkan kasih sayang terhadap orang yang dikasihi, keluarga, dan sesama.
Pada era postmodern seperti saat ini, budaya global sangat cepat saling mempengaruhi, tak terkecuali mempengaruhi budaya bangsa kita, budaya Indonesia. Budaya barat mempengaruhi budaya timur, sebaliknya budaya timur mempengaruhi budaya barat.
Dalam proses perjalanan sebuah tradisi ataupun suatu perayaan, dalam perkembangannya terkadang mendapat penolakan dari masyarakat suatu bangsa. Misalnya Yoga dari timur, pernah ditolak oleh beberapa kelompok masyarakat barat. Demikian halnya dengan hari Valentine, mendapat penolakan dari beberapa kelompok masyarakat Indonesia. Bangsa kita harus bisa menyaring, memilah, memilih budaya yang positif, yang negatif dibuang saja ke Samudera Hindia.
Dari beberapa sumber disebutkan, menjelang perayaan Valentine Day, terjadi peningkatan signifikan penjualan Kondom. Hal ini sebagai indikasi bahwa hari Valentine dijadikan ajang seks bebas, terutama oleh kaula muda. Tidak heran jika kemudian sekelompok orang berdemo menolak perayaan Valentine Day. Bahkan oleh golongan tertentu, Valentine Day dinyatakan haram, tidak dibolehkan merayakan hari kasih sayang.
Sangat disayangkan jika hari kasih sayang disalahgunakan, disalahartikan, dijadikan ajang seks bebas, seks di luar nikah oleh kaula muda. Seharusnya tidak boleh terjadi demikian, kasih sayang bukan dibuktikan dengan seks, dengan kata lain, cinta jangan dimaknai sebagai "cinta itu seks". Padahal, menurut Mario Teguh, cinta itu penghormatan. Bahkan kitab Canakya Niti Sastra menyebutkan bahwa, cinta dapat terlihat dari rasa hormat dan kelembutan.
Dengan demikian, cinta itu bukan dibuktikan dengan seks, melainkan dengan penghormatan. Bentuk penghormatan untuk membuktikan bahwa kita saling mencintai adalah dengan saling menjaga kehormatan, terutama menjaga kehormatan seorang gadis, seorang wanita. Kitab suci menyatakan, di mana wanita dihormati, keluarga itu pasti bahagia. Sebaliknya, dimana wanita tidak dihormati, tiada ritual yang berpahala, keluarga itu pasti hancur, dihancurkan oleh kekuatan gaib.
Kasih sayang atau cinta kasih merupakan bagian dari ajaran Ahimsa, yang pada intinya tidak menyakiti, menyayangi semua mahkluk. Hari kasih sayang sudah seharusnya diimplementasikan dalam bentuk yang positif; saling mengasihi sesama, saling menghormati, tolong menolong. Dulunya berantem, hari ini baikan. Putus pacaran, sambung lagi, atau setidaknya jika tidak bisa merajut cinta kembali, kita bisa berdamai, jangan ada dendam diantara kita.
Atas dasar tersebut, bolehlah saya mengatakan, seks bebas no, cinta kasih yes. Mari kita rayakan valentine dengan kasih sayang, bukan dengan seks bebas. Saling mengasihi merupakan anjuran agama, seks bebas merupakan larangan agama. Dampak dari seks bebas berkepanjangan, menurut kitab suci, seks itu suci, sacral. Sehingga ketika banyak terjadi penyimpangan hubungan seks, maka akan lahir generasi penerus yang rusak. Sedangkan generasi penerus merupakan aset bangsa.
I Ketut Mertamupu
Mahasiswa Universitas Hindu Indonesia Denpasar