SOLO - Salah satu anggota tim perdamaian konflik Keraton Kasunanan Surakarta yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Roy Suryo, tidak mempermasalahkan ketidakhadiran Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi saat tinggalan Jumenengan atau peringatan kenaikan tahta.
Menteri Pemuda dan Olahraga itu mempersilakan upacara dilanjutkan. Ketidakhadiran Raja pun tidak akan mengganggu jalannya rekonsiliasi di tubuh Keraton Kasunanan.
“Silakan tradisi budaya Jumenengan digelar meskipun tanpa kehadiran Raja. Tidak apa-apa dan tidak akan mengganggu proses perdamaian di keraton itu sendiri,” ujar Roy di sela kunjungannya ke Solo, Jawa Tengah, Minggu (4/5/2014).
Menurut dia, proses perdamaian Keraton Kasunanan Surakarta tetap berjalan sesuai arahan SBY, pascapertemuan dengan Raja di Istana Kepresidenan Yogyakarta.
Pemerintah akan mulai serius menangani konflik internal keturunan Dinasti Mataram itu sesudah pemilu.
Menurut dia, sejauh ini, tim investigasi yang dibentuk SBY melibatkan tiga menteri, telah menemukan titik terang. Sehingga, saat Presiden SBY mengeluarkan keputusannya, bisa diterima oleh semua keluarga besar keraton.
Keputusan tersebut, tegas mantan anggota Komisi I DPR, itu bukan untuk kepentingan sesaat, namun untuk mengembalikan kejayaan dan kerukunan di internal keraton.
“Saya berharap warga Kota Solo mendukungnya. Kalau keraton itu mendapatkan marwah akan kembali menjadi kebanggan kota Solo,” pungkasnya.
Rencananya, Jumenengan tahun ini akan digelar pada 25 Mei 2014 atau dalam penanggalan Jawa jatuh pada 25 Rajab.
Tanggal penetapan Jumenengan tersebut sudah sesuai dengan waktu di mana Hangabehi dinobatkan sebagai Pakubuwono XIII, menggantikan ayahnya Pakubuwono XII yang naik tahta pada Jumat 10 September 2004 atau 25 Rajab.
Berdasarkan tradisi keraton, Jumenengan selalu digelar setiap 25 Rajab. Sementara lokasi pergelaran upacara Jumenengan adalah bangsal Sasana Sewaka.
(Anton Suhartono)