Perubahan Dunia Internasional Menurut Wamenlu

Margaret Puspitarini, Jurnalis
Kamis 18 September 2014 19:05 WIB
Wamenlu Dino Patti Djalal (Foto: dok.Kemlu)
Share :

JAKARTA - Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyatakan, ada lima perbedaan dalam dunia internasional saat ini dibandingkan pertama kali dia terjun pada bidang hubungan internasonal. Mulai dari dominasi kekuatan, jumlah negara, maupun gap antara aspirasi dan pencapaian.

"Perbedaan pertama, dunia tidak dikuasai Barat lagi. Dulu, ikon dunia adalah Barat baik sosial, budaya, dan ekonomi. Sekarang tidak lagi. Artinya, ruang kita semakin besar. Baik Jepang, China, Brasil, Turki, dan Indonesia punya ruang lebih besar untuk bergerak," kata Dino dalam kuliah umum di Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jakarta Pusat, Kamis (18/9/2014).

Di hadapan sekira 300 mahasiswa dari 12 perguruan tinggi negeri dan swasta itu, Dino menyatakan, perbedaan kedua terletak pada perbedaan peran dalam hubungan internasional. Dia menilai, hubungan internasional bukan lagi terletak pada negara tapi justru antar individu.

"Kedua, yang saya amati di lapangan, kekuatan individu sangat kuat. Trend abad 21. Dulu yang mendominasi hubungan internasional adalah hubungan antara diplomat tapi sekarang yang lebih kuat adalah hubungan antar individu," paparnya.

Kemudian, perbedaan ketiga terdapat pada sistem demokrasi. Dino mengaku tumbuh dalam era otoriter dan hanya di Jepang saja yang sudah menerapkan demokrasi. Tapi saat ini, demokrasi sudah menjalar di berbagai negara di dunia.

Keadaan itu, tambahnya, akan memberikan perbedaan diplomasi dibanding era otoriter. "Beda melancarkan diplomasi di kawasan demokrasi dengan era otoriter dulu," kata mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu.

Keempat, jumlah negara. Dulu, ungkap Dino, hanya ada  50 negara tapi sekarang jumlah negara mencapai 200. Dia berharap, tidak muncul negara baru karena bisa menimbulkan gejolak luar biasa.

Terakhir, gap antara aspirasi dan pencapaian lebih pendek. Dino menyatakan, satu bangsa bisa diubah dalam satu generasi tak perlu lagi menunggu hingga lima generasi.

"Salah satunya Senzhen. Dulu kota nelayan dengan penduduk miskin berjumlah 200 ribu jiwa. Tapi dalam satu generasi bisa diubah menjadi salah satu kota terkaya. Ruwanda juga demikian. Pernah dengan Rwanda Genocide tahun 1992? Sekarang mereka jadi dengan performa terbaik versi World Bank. Jadi Sillicon Valley nya Afrika. Maka, Indonesia bisa lebih awal mencapai itu. Mimpi di siang bolong bisa tercapai," imbuh Dino.

(Fajar Nugraha)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya