JAKARTA - Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. merupakan seorang ahli hukum tata negara, politikus, serta intelektual Indonesia. Yusril pernah menjabat sebagai Menteri Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Menteri Sekretaris Negara Indonesia. Ia juga aktif di dalam kegiatan-kegiatan internasional, pernah dipercaya sebagai President Asian-African Legal Consultative Organization di New Delhi, India.
Yusril lahir di Belitung pada 5 Februari 1956, terlahir sebagai anak keenam dari sebelas bersaudara. Ayahnya Idris Haji Zainal Abidin merupakan keturunan bangsawan Kesultanan Johor yang menetap di Belitung sejak abad 19, sedang ibunya Nursiha Sandon berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat.
Yusril menghabiskan masa kecilnya di Belitung dengan sangat sederhana. Ayahnya hanya bekerja sebagai pegawai negeri dengan gaji yang terbilang kecil untuk menghidupi keluarga besarnya.
Yusril menamatkan pendidikan SD hingga SMA di kota kecil Manggar. Sejak duduk di bangku SMP Yusril sudah aktif berorganisasi. Ia pernah menjadi Ketua OSIS di SMP dan SMA. Dan aktif dalam organisasi Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) serta menjadi anggota di organisasi afiliasi Partai Syarikat Islam Indonesia, yaitu Pemuda Muslimin.
Ketika tamat SMA, Yusril melanjutkan pendidikanya di Fakultas Hukum dengan spesialisasi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia, dia pun terpilih menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa UI, dan bergabung dalam Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia serta Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tak hanya sampai di situ, Yusril masuk dalam kepengurusan Muhammadiyah dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia derta Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia.
Tak hanya belajar hukum, Yusril juga belajar filsafat di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tahun 1983 ketika ia tamat kuliah, Yusril menjadi dosen di almamater hingga ia melanjutkan untuk menempuh gelar Master di Universitas Punjab, Pakistan pada 1984, serta mengambil gelar Doktor Ilmu Politik di University Sains Malaysia tahun 1993.
Setelah menjadi seorang Profesor, Yusril banyak menjadi dosen di beberapa universitas seperti Akademi Ilmu Permasyarakatan, Departemen Kehakiman dan dosen di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta bahkan diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Hukum di UI, ia mengajar pada program pascasarjana UI di bidang Hukum Tata Negara, Teori Ilmu Hukum dan Filsafat Hukum.
Karir Politik
Pengalaman Yusril selama ini dalam dunia organisasi dan dunia akademis akhirnya membawa Yusril ke dalam dunia politik, ia mendirikan Partai Bulan Bintang pada 17 Juli 1998 dan Yusril didapuk menjadi Ketua Umum PBB sampai 2005. Dan Yusril diangkat menjadi Menteri Kehakiman dan HAM tahun 2001-2004, dan Menteri Sekretaris Negara tahun 2004-2007.
Yusril sempat mencalonkan diri sebagai presiden dalam Pilpres 2014 setelah sebelumnya PBB tidak lolos verifikasi oleh KPU.
Namun, Yusril menggugat KPU melalui Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara sejak 25 Januari 2014. Barulah kemudian PBB dinyatakan lolos menjadi peserta Pilpres 2014 dan Yusril maju sebagai capresnya.
Yusril yang selalu lantang dan terbuka dalam menanggapi isu politik dan hukum menjadi tertutup kala menyangkut kehidupan pribadinya.
Yusril tercatat dua kali menikah. Istri pertamanya Kessy Sukaesih adalah lulusan Sekolah Tinggi Publisistik yang berubah nama manjadi IISIP. Mereka dikaruniai empat orang anak yaitu Yuri Kemal Fadlullah, Kenia Khairunissa, Meilany Alissa, dan Ali Reza Mahendra. Yusril akhirnya bercerai dengan Kessy Sukaesih pada November 2005.
Istri keduanya, Rika Tolentino Kato adalah wanita keturunan Filipina dan Jepang, ia resmi dinikahi Yusril pada tahun 2006 dan telah dikaruniai dua orang anak yaitu, Ismail Zakaria dan Zulaikha.
(Syukri Rahmatullah)