Kang Dedi: Sistem Pendidikan Saat Ini Hilangkan Karakter Anak

Didin Jalaludin, Jurnalis
Selasa 16 Desember 2014 00:03 WIB
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyebut sistem pendidikan saat ini menghilangkan karakter anak (Foto: Dok Okezone)
Share :

PURWAKARTA - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengaku prihatin dengan potret pendidikan saat ini. Pasalnya, karakter anak bangsa dinilai berubah seiring ditelan zaman. Akibatnya, anak mudah Indonesia tumbuh dengan karakter yang kurang kompetitif secara mental alias manja.
 
“Sekarang kelas satu SD tak lagi belajar membaca dan menulis, karena rata-rata mereka sudah harus bisa membaca dan menulis sebelum masuk kelas satu SD. Kalau seperti itu, ada pembebanan pelajaran pada anak-anak TK,” tegas Dedi, Senin (15/12/2014).
 
Karena itu, lanjut dia, jangan disalahkan kalau saat ini anak usia 14 tahun bahkan 10 tahun perilakunya sudah dewasa. Sebab, kata Dedi, mereka mengalami proses pendewasaan sebelum waktunya. Karena hilangnya fase kehidupan sebagai anak yang merdeka dari berbagai tekanan pendidikan formal yang mereka alami.
 
“Sehingga ketika mereka menginjak usia remaja bahkan dewasa mereka masih berperilaku seperti anak-anak. Perilaku tersebut terlihat dari pola hidup yang manja. Pendidikannya memang tinggi tetapi hidup bergantung pada orang tua secara total dari mulai jajan, biaya pakaian, hingga biaya nikah,” cetusnya.
 
Sifat kekanak-kanakan lainnya, lanjut Dia, diwujudkan dengan menggalang komunitas yang seringkali memicu aksi solidaritas, hidup bergerombol, serta tawuran yang terorganisir. Di mata Dedi, sifat kekanak-kanakan pada usia remaja tersebut salah satu faktornya adalah hilangnya masa-masa indah sebagai anak-anak.
 
“Selain melakukan transformasi ruang budaya, pendidikan juga semestinya membuat ruang bagi pertumbuhan dan perkembangan fase-fase kehidupan anak. Selain problem pembelajaran yang semakin menjauhkan pendidikan pada pembentukan karakter anak didiknya, lingkungan saat ini semakin menjauhkan anak-anak kita dari kegundahan diri yang dialaminya,” kata Bupati yang dikenal concern terhadap bidang budaya ini.
 
Pembentukan karakter, kata dia, sangat dipengaruhi oleh suara yang didengar setiap saat. Musik yang didengar anak-anak saat ini sudah tidak lagi melambangkan keriangan anak secara alami, karena karya cipta lagu yang didengar dalam setiap saat lebih melambangkan kegundahan kaum-kaum muda atau dewasa terhadap berbagai problem yang dihadapinya, semisal problem cinta dan rumah tangga.
 
Lagu sekarang, kata Dedi, banyak yang mencerminkan potret wanita yang ditinggalkan berselingkuh oleh suaminya, atau pria yang ditinggalkan oleh istrinya yang selingkuh. Sehingga anak-anak hanyut dalam romantika yang belum waktunya. Anak-anak juga dirasa tidak lagi ada yang mewakilinya untuk mengekspresikan jiwanya. Tidak ada lagi yang mewakili mereka yang gundah karena hilangnya cicak-cicak di dinding, nyaris tak terdengar lagi tik-tik bunyi hujan di atas genting, hingga hilangnya burung kutilang yang berbunyi.
 
“Di tengah-tengah keheningan dan kegundahan anak-anak kita, untung saja masih ada para politisi yang mau mewakili mereka dengan bermain petak umpet palu sidang paripurna, bahkan kebahagiaan anak-anak untuk bermain mobil-mobilan, kapal-kapalan, anjang-anjangan, bobonekaan, hari ini disuguhkan dengan manis dengan permainan komisi-komisian, ketua-ketuaan, wakil-wakilan, partai-partaian dan gubernur-gubernuran,” tutup Dedi dengan canda khas Sunda.

(Dede Suryana)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya