KLATEN – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) berencana menutup sementara jalur pendakian ke Gunung Merapi, baik melalui Klaten maupun Boyolali, mulai 16 Januari hingga 16 Maret 2015.
Penutupan akses pendakian Gunung Merapi oleh TNGM selama dua bulan ke depan bukan karena adanya aktivitas gunung api teraktif di Indonesia ini.
Namun, penutupan jalur pendakian tersebut oleh TNGM ditujukan untuk pemulihan kembali kawasan konservasi Hutan Lindung Gunung Merapi.
Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Jawa Tengah, Sri Winarno, mengatakan, surat penutupan jalur pendakian Gunung Merapi oleh TNGM resmi telah diterima pihaknya pada Minggu 11 Januari 2015.
Surat edaran resmi dari Balai Taman Nasional menyebutkan akan mensterilisasi Gunung Merapi dari aktivitas pendakian umum. Nantinya, selama penutupan jalur pendakian akan ada perbaikan jalur pendakian dan untuk kepentingan konservasi.
"Penutupan terkait konservasi dan akan dilakukan pembenahan jalur pendakian mengurangi risiko kecelakaan karena masih tingginya curah hujan," terangnya di Klaten Jawa Tengah, Senin (12/1/2015).
Jalur pendakian Gunung Merapi dalam kurun waktu terakhir mengalami lonjakan jumlah pendaki. Pendakian yang paling ramai pada Malam 1 Sura, malam tahun baru dan peringatan 17 Agustus. Imbasnya, banyak titik jalur pendakian yang rusak.
“Karena sering dilewati pendaki, maka jalur yang sempit dan intensitas hujan yang tinggi salah satu penyebab kerusakan jalur," terang Pak Win -sapaan akrabnya.
Sepanjang jalur pendakian banyak lokasi yang rawan longsor dan perlu segera diperbaiki agar tak membahayakan pendaki.
Selain itu, ungkap Winoto, diharapkan relawan menyebarluaskan informasi terkait penutupan sementara pendakian kepada masyarakat luas.
"Jangan sampai ada pendaki kecewa jauh-jauh datang ke Merapi, tapi jalur pendakian ditutup," pungkasnya.
(Carolina Christina)