Sementara kondisi dari Bahrudin, suaminya, sudah tidak bisa bekerja lagi karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. "Mata si Bapak yang sebelah kanan itu buta karena sakit, kita enggak punya uang. Kalau yang sebelah kiri karena katarak akut jadi suka pusing dia karena enggak bisa lihat," jelasnya
Hingga kini belum ada bantuan yang diterima keluarga tersebut dari Pemerintah Kota. Namun, Muhinah tak mau mengandalkan belas kasih orang dengan menadahkan telapak tangan. Ia tak patah semangat untuk mencari rezeki. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan dengan sisa tenaga rentanya.
"Saya bekerja keliling mulai subuh, per hari kalau ramai saya bisa dapat Rp25-Rp 30 ribu. Itu pun uangnya saya buat biaya anak saya. Setelah berjualan saya menjadi buruh cuci dan setrika lumayan buat tambah-tambah kalau enggak begitu saya enggak bisa makan, kadang saya makan sehari cuma sekali," ungkapnya.
Ketua RT 04/RW 07, Markam, menjelaskan, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk memberikan bantuan kepada Muhinah. "Karena data keluarga Muhinah belum pernah diminta oleh pihak dinas sosial maupun dinas-dinas lainnya. Saya bisa apa, warga kita banyak yang enggak mampu yang belum pernah terima bantuan," tuturnya. (sna)
(Stefanus Yugo Hindarto)