WASHINGTON – Beberapa minggu ini, hubungan antara Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Pemerintah Israel terus memburuk sehubungan dengan rencana AS melakukan pembicaraan mengenai program nuklir dengan Iran.
PM Israel Benyamin Netanyahu diketahui sangat menentang upaya pembicaraan yang diharapkan dapat menekan program Iran dalam waktu yang lama. Rabu 25 Februari lalu, PM Netanyahu menuduh kekuatan dunia telah melupakan upaya dalam mencegah Iran untuk memiliki kekuatan nuklir.
Juru Bicara Kongres AS John Boehner, bulan lalu telah mengundang sang PM Perdana untuk berpidato mengenai masalah nuklir Iran dihadapkan Kongres AS. Undangan ini disampaikan tanpa ada konsultasi dengan Gedung Putih. Pembicaraan tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada 3 Maret mendatang. Kongres AS diketahui dikuasai Partai Republik yang merupakan lawan politik dari Pemerintahan Presiden Barrack Obama yang dikuasai Partai Demokrat.
Menteri Dalam Negeri AS, John Kerry mengingatkan warga dan Kongres AS mengenai rasa permusuhan PM Israel itu pada negara-negara Timur Tengah. Dia juga mengingatkan mengenai pidato sang perdana menteri pada Kongres AS pada 12 September 2002, yang mendorong terjadinya invasi AS ke Irak 2003.
“Sang perdana menteri, seperti yang Anda ingat, sangat berkeinginan, dan vokal dalam menyuarakan pentingnya invasi terhadap Irak pada masa Pemerintahan George W. Bush, dan kita semua tahu apa yang terjadi selanjutnya,” kata Kerry sebagaimana dikutip Reuters, Kamis (26/2/2015).
Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest menyampaikan kembali pendapat dari penasihat keamanan nasional Susan Rice, yang menyatakan bahaya retaknya hubungan AS - Israel hanya karena persaingan politik antarpartai.
(Hendra Mujiraharja)