Disinggung harga satu unit pembuatan pesawat, Nasir menjelaskan, untuk satu unit pesawat jenis riset dihargai sekira Rp120-Rp150 miliar. Akan tetapi, harga jual secara ekonomis mencapai Rp70 miliar.
“Jelas pesawat ini lebih murah dan lebih ekonomis ketimbang pesawat buatan luar negeri. Prototipe sudah selesai, saat ini tinggal pembuatan sertifikasinya saja. Mudah-mudahan tahun 2015 ini (sertifikasi) sudah jadi,” harapnya.
Target awal proyek ini, prototipe pesawat sudah selesai dan dipamerkan pada Agustus 2015. Setelah itu, pesawat akan menjalani penerbangan pertamanya (first flight) pada 2016.
Pesawat N219 yang mengandung komponen lokal mencapai 60% ditargetkan bisa masuk pasar pada 2017, setelah memasuki proses sertifikasi.
"Dua negara, Thailand dan Filipina sudah menyatakan diri tertarik dengan keberadaan pesawat terbang jenis N219 tersebut. Namun, kami belum ada pemikiran untuk kesana, karena distribusi ke dalam negeri saja belum mencukupi,” pungkasnya.
(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))