Soekarno lahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo. Tapi karena sering sakit-sakitan, sang Ayah, Raden Soekemi Sosrodihardjo mengganti namanya yang diambil dari tokoh panglima perang dari kisah ‘Bharata Yudha’, yakni Karna. Dengan mengimbuhi awalan “Soe”, maka sejak itu nama Soekarno selalu dibawanya hingga akhir hayat.
Soekarno pertama kali mengenal bangku sekolah di Tulung Agung, semasa tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo, sampai dilanjutkan ke Mojokerto di Eerste Inlandse School, lalu ke Europeesche Lagere School, sampai kembali ke Surabaya di Hoogere Burger School (HBS).
Itu pun Soekarno bisa mengenyam pendidikan di HBS tak lepas dari peran Raden Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang tak lain, sahabat dekat Raden Soekemi.
Dalam kamar kos dengan suasana pengap dan minus cahaya matahari yang disediakan Tjokroaminoto itulah, Soekarno mulai mengenal sejumlah kawan yang nantinya banyak dikenal pula dalam catatan sejarah.
Sebut saja Musso, Alimin, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, serta Semaoen. Di sini pula jadi awal pendewasaan pemikiran Soekarno yang sedari kecil, sedianya sudah punya watak yang cerdas, tak mau kalah dan ambisius jadi penakluk.
Diceritakan Soekarno pada Cindy Adams yang menuliskan biografinya, Soekarno sudah punya banyak pengikut dalam kesehariannya. Ke mana pun Soekarno pergi dan apapun yang diperintahkan, teman-temannya pasti mengikuti.