“Pernikahan berbiaya tinggi karena Korsel menggabungkan tradisi lokal dengan Barat,” ujar Lee Sung-hee, perencana senior di Duo, perusahaan konsultasi pernikahan dan perjodohan terbesar di Korsel.
Ini mulai berubah seiring naiknya usia rata-rata pasangan saat menikah. Tren pesta pernikahan kecil juga melegakan orangtua, karena warga Korsel pada usia 50an dan 60an paling banyak berutang di negara dengan utang rumah tangga yang termasuk tertinggi di dunia.
Separuh dari acara pernikahan yang diselenggarakan Duo adalah pernikahan pasangan-pasangan yang ingin pernikahan skala kecil, atau naik tiga kali lipat dari tahun 2008, menurut Lee. “Karena usia kedua mempelai semakin matang, mereka dapat lebih mudah melawan budaya konvensional dan tuntutan orangtua,” tambahnya.
(Pamela Sarnia)