JAKARTA - Kapuspen TNI, Mayjen Fuad Basya menegaskan prajurit elite infanteri TNI AD Raider, tidak bisa melatih Brimob Polri. Pasalnya, doktrin dan fungsi keduanya jelas terpisah dan tak bisa disamakan satu sama lain.
"Tidak boleh, dong. Raider untuk menghadapi perang konvensional. Brimob untuk menghadapi kerusahan massa," ujar Fuad saat dikonfirmasi awak media di Jakarta.
Fuad menambahkan, ia mengaku kaget saat mengetahui adanya permintaan dari Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, agar anak buahnya dilatih di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdik Passus), Batujajar, Bandung. Menurutnya, pelatihan tersebut juga tidak bisa diberikan kepada tentara biasa.
"Permintaan ada, kaget juga kita. Raider kan untuk tentara, bukan tentara biasa lagi. Infanteri biasa juga tidak latihan Raider. Raider itu satu tingkat komando," imbuhnya.
Sebab itu, lantaran perbedaan doktrin, lanjut Fuad, hal tersebut tak akan mendapat restu dari Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo. Terlebih, masyarakat juga bisa menyalahkan Raider TNI jika pelatihan itu terjadi.
"Doktrin tidak boleh. Tidak memungkinkan kalau Brimob dilatih Raider. Bisa disalahkan masyarakat kita. Masak Brimob dilatih Raider? Panglima juga tidak akan setuju," pungkasnya.
Seperti diketahui, Kapolri telah mengirimkan surat bernomor B/3303/VII/2015 tertanggal 15 Juli 2015. Dalam surat tersebut, Badrodin itu meminta agar Brimob berlatih Raider di Pusdik Passus.
(Randy Wirayudha)