Maksud dari ucapan Gus Mus tersebut tentu tak bisa diartikan sembarangan. Yang jelas polemik yang terjadi akan lebih baik diserahkan kepada kiai sepuh NU yang tentu lebih tahu apa yang harus dilakukan. Persepsi negatif justru akan merugikan NU sendiri sebagai organisasi terbesar di Indonesia, bahkan di dunia.
Sebelumnya, dalam muktamar NU ke -33, KH Mustofa Bisri memberikan wejangan di tengah suasana muktamar yang memanas. Bahkan, dalam wejangannya, Gus Mus sempat menangis dan memohon kepada peserta muktamar mengedepankan ahlakul karimah yang diajarkan para pendiri NU. Tadi malam, nyaris saja terjadi adanya muktamar tandingan di Ponpes Tebu Ireng, karena tidak menyetujui proses pemilihan AHWA. Tapi, akhirnya niat tersebut urung dilakukan, demi menjaga keutuhan Nahdlatul Ulama (NU).
(Syukri Rahmatullah)