TANGERANG - Ratusan aktivis mahasiswa Kota Tangerang yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Syekh Yusuf (KBM-UNISH) dan Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMI) menggelar aksi demonstrasi satu tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Dalam aksi tersebut nyaris terjadi bentrokan karena demonstran dan polisi saling berebut patung Jokowi yang awalnya akan dibakar mahasiswa.
Pada aksi demo yang digelar di Bundaran Adipura, Jalan Veteran, Kota Tangerang, para mahasiswa melakukan teatrikal untuk menggambarkan kesengsaraan masyarakat Indonesia akibat mandulnya program kebijakan Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi-JK.
Bentrokan pun nyaris terjadi ketika sejumlah mahasiswa hendak membakar replika patung Jokowi lantaran aparat keamanan yang berjaga spontan menghalangi dan merebut patung tersebut. Beruntung hal itu bisa dilerai saat koordinator mahasiswa menenangkan massanya dan mengurungkan niatnya membakar patung tersebut.
Dalam orasinya, mahasiswa mengkritisi berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintahan Jokowi yang dinilai tak membawa perubahan apapun untuk memperbaiki nasib rakyat. "Satu tahun pemerintahan Jokowi hanya diisi oleh prestasi anti-klimaks, baik itu dalam soal hukum, ekonomi, sosial dan politik," kata Koordinator GMI, Maslam Danuri dalam orasinya, Rabu (21/10/2015).
Para mahasiswa juga menilai dalam satu tahun pemerintahan Jokowi yang tampak hanyalah pelemahan peran negara. Terlihat dalam keberpihakannya terhadap revisi Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, kemunduran ekonomi yang berdampak pada PHK massal serta kenaikan harga sembako. Semua itu terjadi karena Nawacita Jokowi hanya slogan basa-basi.
"Pelemahan negara seperti ini terjadi akibat pemimpin yang tak visioner, Nawacita hanya dijadikan slogan basa-basi kampanye saja," ujar Maslam Danuri.
Aksi yang dikawal ketat aparat Polres Kota Tangerang itu juga menimbulkan kemacetan di sekitar Jalan Veteran, Kota Tangerang. Namun, aksi mahasiswa tersebut tak berlangsung lama karena sekira pukul 16.00 WIB, para mahasiswa membubarkan diri secara tertib dan kembali ke kampusnya.
(Arief Setyadi )