TAIPEI – Pada Sabtu 7 November 2015, pemimpin tertinggi Taiwan, Ma Ying-jeou, akan melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan itu dinilai sarat dengan unsur sejarah.
Pasalnya, pertemuan itu akan menjadi pertemuan pertama setelah lebih dari enam dekade lamanya pemimpin China-Taiwan tidak pernah bertemu. Sabtu mendatang merupakan pertemuan pertama kedua tokoh politik itu sejak China-Taiwan berpisah pada 1949, menyusul berakhirnya perang saudara.
“Pertemuan yang akan saya lakukan dengan Presiden Xi Jinping pada Sabtu nanti semata-mata untuk masa depan rakyat Taiwan. Tentunya persoalan perbatasan juga akan dibahas nanti,” ujar Ying-jeou, seperti dilansir dari Al Jazeera, Kamis (5/11/2015).
“Kendati demikian, pertemuan dengan Presiden Xi Jinping bukan karena pada Januari 2016 akan diadakannya Pemilu Taiwan. Pertemuan nanti kami lakukan untuk hal-hal yang positif bagi generasi Taiwan berikutnya,” sambungnya.
Sebagaimana diketahui, pertemuan antara pemimpin tertinggi Taiwan dan China yang akan dilaksanakan pada akhir pekan ini memang bertepatan dengan demonstrasi anti-China yang dilakukan warga Taiwan beberapa pekan terakhir menjelang Pemilu presiden dan parlemen Taiwan yang akan berlangsung pada Januari 2016.
Beberapa pihak menilai bahwa pertemuan Presiden Xi Jinpin dan pemimpin tertinggi Taiwan Ma Ying-jeou nanti di Singapura bertujuan untuk menekan Pemerintah Taiwan untuk tetap menjadi bagian dari negaranya.
(Jihad Dwidyasa )