MALANG – Nama Mbah Wagini (75), warga Desa Sanankerto, RT 11 RW 02, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mendadak terkenal di dunia maya. Kisahnya yang memilukan hati mengundang perhatian netizen dan masyarakat umum.
Bahkan, sehari-hari kini Mbah Wagini banyak menerima kunjungan dari berbagai komunitas dan individu yang ingin meringankan beban dan membantunya.
Mbah Gini memang sudah renta. Rambutnya hampir beruban semua. Di belakang kepalanya tersangkut sisir, menahan rambut putihnya yang tergerai. Jalannya mulai tertatih, kulitnya keriput dimakan usia. Tapi, ia tetap ramah menerima siapa saja yang datang bertamu.
Untuk berbicara dengannya harus mendekat. Maklum, pendengarannya sudah berkurang. “Matur suwun, sepurane ora iso nyuguhi opo-opo (Terima kasih, maaf tidak bisa memberi suguhan apa-apa),” katanya saat menerima Okezone yang menyambangi rumahnya awal pekan ini.
Mbah Gini menceritakan kisah hidupnya yang sendirian. Sebenarnya ia masih memiliki anak tiri yang tinggal sekira 10 kilometer dari rumahnya, tapi Mbah Gini tak bisa berharap banyak.
“Tidak punya siapa-siapa, anak saya juga tidak pernah mengurusi. Dia saya rawat sejak kecil,” tuturnya seraya memeragakan tangannya ke bawah sebagai isyarat jika dirinya pernah merawat anak tirinya sejak kecil.
Sebelum menempati rumah bantuan program PNPM Mandiri pada 2011, Mbah Gini sempat hidup berpindah-pindah. Namun atas kemurahan hati Mbok War yang rumahnya berada di depannya, Mbah Gini diberi sepetak tanah plus gubuk untuk ditinggalinya. Rumah itu kemudian direhab dengan dana PNPM hingga lebih layak tinggal.
Meski sudah permanen, kondisi rumahnya kumuh. Foto-foto kondisi rumah dan kamar Mbok Gini belakangan beredar di media sosial, mengundang keprihatinan banyak orang.
“Orangnya memang ngusuh atau selalu membawa resek atau sampah ke rumahnya, bahkan menumpuk di tempat tidurnya,” ujar Subakri, seorang perangkat desa setempat yang kini menjadi penanggung jawab segala bantuan yang diterima Mbok Gini.
Waktu masih ada Mbok War, kata Subakri, Mbok Gini sangat menurut. Diminta mandi, bersih-bersih, ia manut. Mbok War-lah yang dulu merawatnya. Namun setelah Mbok War meninggal dunia lima tahun silam, Mbok Gini pun telantar. “Namun, tidak sampai kelaparan, semua tetangga di sekitar sini pasti memberinya makan,” ujar Subakri.
Terkait beredarnya kabar di media sosial bahwa Mbok Gini makan nasi basi, Subakri menyangkalnya. Menurut dia, ketika itu Mbok Gini mendapat kiriman nasi berkat hajatan.
Pagi harinya, ayam-ayamnya yang biasa berada di kamar bersama Mbok Gini ikut mau diberi makan nasi tersebut. “Kalau tidur bersama ayam dan mentok iya memang, tapi kalau makan nasi basi tidak,” ujarnya.
Pun demikian, Subakri mewakili Mbok Gini berterima kasih banyak kepada para dermawan yang telah membantu. Ia juga meminta maaf apabila ada kekeliruan atau kurang ramah dalam menyambut para tamu.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para relawan yang membantu memperbaiki rumah Mbok Gini dengan mengecat, memperbaiki teras serta membuatkan kandang ayam.
“Saya akan selalu mengawasi rumah Mbok Gini dan kehidupannya bersama tetangga dan karang taruna,” ujarnya.
(Salman Mardira)