JAKARTA - Nama Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Luhut Binsar Panjaitan, muncul dalam dokumen Panama Papers. Ia diduga memiliki perusahaan bernama, Mayfair International Ltd.
Saat dikonfirmasi, Luhut membantah tegas namanya muncul di dalam Panama Papers tersebut. Ia menegaskan, tidak memiliki perusahaan seperti yang disebutkan tersebut.
(Baca juga: JK: Tidak Semua Nama di Panama Papers Lakukan Kejahatan)
"Tentang Panama papers, saya tidak pernah terlibat di dalam itu dan saya tidak tahu itu Mayfair itu," ujar Luhut di kantornya Jalan Medan Merdeka, Senin (25/4/2016).
Mantan Kepala Staf Kepresidenan itu juga menolak tegas jika dirinya disebut sebagai pengemplang pajak. Menurut dia, sebagai pejabat negara dirinya adalah seorang yang taat membayar pajak.
"Saya tidak pernah berkeinginan sedikit pun untuk tidak membayar pajak. Saya salah satu pembayar pajak setia. Dan itu nilai-nilai yang menurut saya penting," ujar dia.
Luhut juga mengaku, alamat rumah yang dimilikinya, yang ada dalam dokumen Panama Papers adalah salah.
"Saya enggak tahu, itu alamat rumah saya saja dibikin salah di situ. Alamat rumah saya dibilang di Mega kuningan 11. Saya bukan di Mega Kuningan 11. Saya enggak tahu. Tapi saya tidak pernah, tanya staf saya, tidak pernah terima uang, tidak pernah tahu uang," ungkapnya.
(Baca juga: Ini Tujuan Si Whistleblower Panama Papers)
Sekedar informasi, Panama Papers adalah bocoran dokumen dari firma hukum Mossack Fonseca. Kantor pengacara yang berbasis di Panama ini terkenal memiliki spesialisasi membuat perusahaan offshore rahasia di kawasan suaka pajak, seperti British Virgin Islands.
Dokumen Mossack Fonseca bocor pada awal 2015 pada surat kabar Jerman, Suddeustsche Zeitung. Koran ini kemudian memutuskan bekerja sama dengan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), yang berbasis di Washington, DC, Amerika Serikat. ICIJ lalu mengorganisasi kolaborasi investigasi global dengan hampir 400 jurnalis dari seratus media di seluruh dunia.
(Fransiskus Dasa Saputra)