JAKARTA - Teroris Santoso diduga tewas dalam baku tembak dengan Satuan Tugas Tim Operasi Tinombala di hutan pegunungan Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, Sulawesi Tengah Senin kemarin 18 Juli 2016.
Nama Santoso alias Abu Wardah dikenal sebagai pimpinan Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) yang mendeklarasikan bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. Sejak itu, ia menjadi teroris paling diburu oleh Pemerintah Indonesia.
Menilik kehadiran awal kelompok Santoso, peran Abu Tholut memiliki jasa besar bagi perkembangan kelompok itu. Abu Tholut sendiri adalah tersangka kasus pelatihan teroris di Aceh, namun bebas bersyarat pada Oktober 2015.
Abu Tholut juga merupakan kaki tangan Amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Abu Bakar Baasyir, yang memiliki cita-cita mendirikan negara Islam di Poso.
Awal Maret 2010, Santoso datang ke Poso bersama teman-temanya dan mengembangkan wilayah itu untuk menjadi salah satu pusat jihad di Indonesia. Selama di sana, Santoso mencari senjata, menggalang dana serta mengumpulkan senjata untuk memperkuat kelompoknya dan seragam polisi untuk operasi mereka di masa depan.
Pengamat terorisme Al Chaidar menjelaskan, kelompok Santoso melakukan rekrutmen anggota dari berbagai kalangan yang pernah berjihad di Ambon, Poso, dan juga di Mindanao, Filipina, serta dari wilayah lainnya.
Pada 2011, kelompok Santoso melakukan operasi teror. Target mereka pertama kali yaitu salah satu bank di Palu. Usai melakukan penyerangan terhadap bank, Santoso kembali melakukan serangan ke Polsek di Palu pada Mei 2011, dan berhasil membobol beberapa sel untuk mendapatkan rekrutan baru.
Dalam mengumpulkan dana, kelompok Santoso terlibat dalam aksi kriminal pencurian. Aksi tersebut juga untuk membiayai hidup janda para pelaku teroris yang tewas dalam operasi sebelumnya.
Sebanyak 15 persen hasil pencurian diberikan untuk para janda, sedangkan 85 persen untuk para pelaku.
Santoso tidak hanya beroperasi untuk kelompoknya sendiri, namun juga bekerjasama dengan kelompok lain, yakni menjali kerjasama dengan kelompok Abu Umar di Kalimantan Timur pimpinan Abu Umar serta berhasi membuka hubungan dengan Moro Islamic Liberation Front, dan Santoso menggunakan hubungan tersebut untuk membuka kamp di Kalimantan dan Poso, dan mendapatkan senjata beserta amunisinya.
Penyerangan terakhir kelompok itu terjadi pada 15 Maret 2016. Penyerangan bermula dari kegiatan patroli rutin yang dilakukan oleh Satuan Petugas TNI-Polri dalam Operasi Tinombala di sekitar hutan desa Talabosa, Kecamatan Lore Tengah.
Operasi Tinombala merupakan satuan gabungan yang sengaja dibentuk untuk mengejar kelompok Santoso. Sedikitnya 2.500 personel diterjunkan untuk menagkap Santoso dan anak buahnya.
Wakil Penanggung Jawab Operasi Tinombala 2016 Kolonel Infantri Syaiful Anwar dalam keterangannya di Pos Komando Sektor IV menjelaskan, patroli yang diturunkan itu secara tidak sengaja menemukan sejumlah orang yang sedang bergerak berjalan kaki.
Ketika hendak didekati, sekelompok orang yang berjumlah antara lima sampai enam orang itu secara tiba-tiba melepaskan tembakan ke arah pasukan TNI-Polri. Tembakan dilepaskan dari urutan paling belakang dari kelompok tersebut.
“Pada saat patroli bergerak, kemudian menemukan mereka juga sedang bergerak, pasukan kita mendekat, tapi kemudian ditembak duluan. anggota kita pun melaksanakan balasan tembakan,” ujar Kolonel Infantri Syaiful Anwar.
Setelah baku tembak, pasukan gabungan TNI-Polri kemudian melakukan penyisiran dan menemukan dua orang tidak dikenal tersebut telah tewas dunia akibat luka tembakan.
Santoso Hanya Sebagai Ikon
Mantan Kepala Kepolisian Resort Poso AKBP Susnadi menjelaskan bahwa pemimpin kelompok teroris di wilayah Poso bukanlah Santoso, melainkan Daeng Koro.
"Santoso hanya ikon, pemimpin sebenarnya Daeng Koro alias Sabar Subagio alias Abu Autad," ujar Susnadi pada 2014.
Santoso, kata Susnadi, hanyalah sosok yang sengaja dibesarkan untuk menyamarkan peran Daeng Koro. Santoso sengaja dibesar-besarkan untuk menjadi ikon, akan tetapi operasional di lapangan tetap dipimpin oleh Daeng Koro.
Hal serupa juga dijelaskan oleh Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya kepada Okezone. Menurutnya, image Santoso yang diceritakan oleh pihak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai buron nomer satu dan paling berbahaya terlalu bombastis.
"Untuk image building dari kepentingan proyek kontra terorisme. Kalau cermat memahami kelompok Santoso, justru Daeng Koro lah yang sangat perlu diperhitungkan. Namun, sekarang dia Daeng Koro sudah meninggal," tegasnya.
Menurut Harits, sekarang kelompok Santoso tidak sekuat sebelumnya baik dari sisi jumlah personel maupun senjata.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat di Kompleks Kepresidenan mengatakan bahwa tiga orang pelaku terorismen melarikan diri saat terjadi baku tembak dengan Satgas Tim Operasi Tinombala. Ketiga orang yang melarikan diri, kata Tito,terdiri atas dua perempuan dan satu laki-laki.
Kendati demikian, Tito mengindikasi bahwa salah satu teroris yang tewas adalah Santoso. “Informasinya ada tahi lalat, itu yang jadi ciri khas Santoso. Ada jenggotnya juga. Tapi saya pikir jangan berspekulasi dulu. Biarkan teman-teman melakukan evakuasi. (Saat ini) sedang dibawa ke RS Bhayangkara di Palu, dibersihkan kemudian orang yang mengenali Santoso akan dibawa apakah betul dia," paparnya kemarin.