Setelah perang berkepanjangan, habis biaya dan kelelahan, pada Juli 1923, Turki memperoleh kemerdekaan yang dicita-citakan. Atatürk didaulat menjadi presiden pertama.
Di bawah pemerintahan Atatürk, Turki berubah dari negara Kesultanan Utsmaniyah yang sangat islamis menjadi negara sekuler, yang membuat pemisahan jelas antara agama dan negara. Meskipun, secara de facto, bridge country barat dan timur itu dihuni oleh sebagian besar umat Muslim, hingga saat ini.
Dilansir dari History, Selasa (26/7/2016), Mustafa dinilai telah berjasa membawa Turki pada kemodernan. Kepemimpinannya juga terbilang baik dan stabil.
Meski begitu, tidak dapat dipungkiri, dia adalah sosok kunci yang memakzulkan kekhalifahan Ottoman, menutup semua pengadilan agama dan pesantren, melarang pemakaian jilbab di ruang publik, menghapus pelayanan hukum dan yayasan keagamaan.
Dia juga mencabut larangan meminum alkohol, mengadopsi banyak hal berbau kebaratan, seperti menggunakan penanggalan Gregorian. Alih-alih mengacu pada bulan, sebagaimana negara-negara Islam pada umumnya. Dengan demikian hari sabat atau libur di Turki berubah dari Jumat menjadi Minggu.
Kemal bahkan mengubah alfabet Turki dari huruf Arab menjadi huruf Romawi. Kiblat utama tidak lagi berpusat ke Saudi, tetapi di Turki. Kerajaan Islam mula-mula di Indonesia, seperti Samudera Pasai di Aceh pernah berkiblat pada negara bulan sabit ini.
Atatürk memerintah dengan tangan besi. Meski begitu dia sangat dihormati rakyatnya, dan mengemban jabatannya hingga ajal menjemput. Sayangnya, Atatürk tidak dikaruniai anak. Dia tewas di kamar tidurnya di Istana Dolmabahce di Istanbul pada 10 November 1938.
Suksesornya tak lain adalah perdana menterinya, Ismet Inonu. Sepeninggal dia, Turki pun mulai bergejolak kembali. Kaum Islam garis keras mencoba menguasai negara dan merubahnya menjadi berpusat lagi pada keislaman.
(Randy Wirayudha)