MEDAN - Fauzi Ramadhan Nasution terbaring di atas kasur. Sejak lahir, bocah berusia delapan tahun itu tak pernah begerak layaknya anak pada umumnya. Ia juga tidak dapat berbicara seperti anak-anak pada umumnya.
"Dari lahir sampai sekarang, cucu saya tak bisa bicara dan berjalan. Ia hanya bisa berbaring saja," ujar Masrani Lubis (63), nenek Fauzi mengawali pembicaraan dengan wartawan.
Fauzi dan keluarganya mendiami rumah sederhana di Jalan Bringin, Pasar V Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Masrani lalu menceritakan proses kelahiran Fauzi. Pada 2008, menantunya, ibu Fauzi, Ainun boru Sitorus (35) hamil tua. Merasa hari kelahiran anak keempatnya segera tiba, ayah Fauzi, Safri Husin Nasution (40) membawa sang istri ke rumah sakit.
Setelah beberapa hari dirawat di salah satu rumah sakit yang berada di Jalan Letda Sujono, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan, Ainun tak juga melahirkan. Ketika itu tim medis memutuskan untuk melakukan operasi.
"Operasi saat itu memang lancar. Dan kami melihat Fauzi seperti bayi pada umumnya yang memiliki berat 3,3 Kg. Tapi karena terbentur biaya, setelah tiga hari dirawat, kami memutuskan untuk membawa pulang dan berobat jalan," terang Masriani.
Tiga hari berada di rumah sepulang dari rumah sakit, keluarga mulai khawatir. Fauzi sama sekali tidak bergerak. Ia juga tak bisa menangis. Sementara kondisi ibunya juga semakin hari kian memburuk pasca melahirkan. Dan 25 hari kemudian, takdir berkata lain, Ainun meninggal dunia.
"Menantu saya tidak ada riwayat penyakit sama sekali. Waktu cek darah, cek jantung dan lainnya saat itu juga normal," terang Masrani.
Masrani menerangkan, saat Ainun dirawat di rumah sakit sebelum melahirkan, tim medis diduga salah memberikan infus kepada menantunya. Hal itu diakui tim medis yang merawat Ainun. Masrani menduga, itulah yang membuat kondisi Fauzi seperti ini dan meninggalnya Ainun.
"Menantu saya tidak ada penyakitnya. Tapi dokter di sana kala itu mengakui kalau bayi di kandungan Ainun sudah terminum cairan infus yang salah dan berdampak kepada ibu dan bayinya," tambahnya.
Oleh karena kesalahan itu, tim medis memutuskan melakukan operasi dan akhirnya berhasil. Tapi setelah itu, kondisi bayi semakin memburuk. Padahal menurut nenek Fauzi, dari anak pertama hingga melahirkan anak ketiga, menantunya baik-baik saja.
"Dari anak pertama sampai anak ketiga tidak pernah ada masalah. Dan semua dilahirkan normal atau tidak perlu dilakukan operasi," akunya.
Sementara mengenai kondisi Fauzi yang memprihatinkan, keluarga sudah bolak-balik membawanya ke rumah sakit. Ke dokter umum dan juga dokter spesialis. Dan para medis mengaku, Fauzi memang salah obat saat masih dalam kandungan.
Tapi karena ketiadaan biaya, keluarga memutuskan Fauzi tetap berada di rumah dan memilih pengobatan tradisional. Uang yang dihasilkan ayah Fauzi sebagai pedagang kecil-kecilan hanya cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari.
"Dulu kami sudah membawa ke dokter spesialis. Setiap diperika, kami harus mengeluarkan biaya Rp300 ribu sampai Rp500 ribu rupiah. Jadi kami tidak punya biaya," kata nenek Fauzi.
Kesedihan Masrani semakin bertambah karena cucu sulungnya, Putri Azizah Andriani yang masih berusia 18 tahun harus menjadi ibu pengganti bagi adik-adiknya. Ia harus merawat ketiga adiknya setiap hari saat ayahnya bekerja.
"Semogalah Allah menolong kami dengan carannya. Dan semoga ada orang lain yang membantu kami agar bisa membawa cucu saya berobat," harap Masrani Lubis meneteskan air mata.
Sementara Putri Azizah Andriani ketika diwawancarai, mengaku sudah terbiasa untuk merawat ketiga adiknya, yakni Abdul Gani Nasution (15), M. Yusuf Nasution, dan Fauzi Ramadhan Nasution (8).
"Ayah sampai sekarang belum pulang. Besok datang saja lagi, kalau mau mewawancarai. Ayah masih jualan sekarang. Kalau ayah tidak jualan, adik saya nanti gak bisa sekolah," ucap Putri Azizah.
Fauzi Ramadhan Nasution hanya bisa terbaring kaku di atas tempat tidur. Sejak lahir, bocah lelaki yang kini berusia delapan tahun itu tak kunjung bisa berjalan. Ia juga tidak dapat berbicara seperti anak-anak pada umumnya, tapi tetap bernafas.
(Risna Nur Rahayu)