Hal senada juga diutarakan teman satu kampung halaman Azwir di Nangroe Aceh Darussalam. Zainal Mutaqin, mahasiwa S-2 Hubungan Internasional di Univeristas Indonesia itu nimbrung dan berbagi pengalamannya soal situasi dalam negeri Turki. Penuturannya didasarkan pada pengalaman dia saat menempuh pendidikan S-1 di perguruan tinggi Ibu Kota Turki.
"Kami di sana itu dekat sekali lagi denga polisi dan militer. Mereka kalau tidak ada operasi itu sama seperti rakyat biasa, ketawa ketiwi di warung pinggir jalan. Beda dengan di Jakarta aja kan kita takut kalau lihat ada polisi ramai-ramai. Pikiran sudah, wah..ada apa ini, ada kejadian apa? Tapi kalau di sana jadi pemandangan biasa. Cuma ya itu, mereka jadi tahu segala sesuatu tentang masyarakat setempat," ujarnya.
Di samping pergerakan sehari-hari masyarakatnya, arus keluar masuk di perbatasan juga tak luput dari pantauan pemerintah Turki. "Oh iya, jelas. Kriminal ecek-ecek saja ketangkap, apalagi yang di perbatasan. Mereka sebenarnya tahu semua. Ada datanya," tukas Azwir.
Penerima beasiswa YTB (program dari pemerintah Turki) itu menjelaskan, untuk masuk ke Turki sangatlah mudah. Kalau mau keluar juga begitu. Meskipun sangat disayangkan karena banyak yang transit ke negara ini untuk menyeberang ke Suriah, pemerintah setempat seolah tak mau ambil pusing.
"Ya, kalau mau menyeberang, itu kan urusan mereka. Tidak ada ruginya untuk Turki. Tapi sekali mereka ketahuan pernah pergi ke Suriah, tidak ada jalan kembali masuk ke Turki," terangnya.
(Rahman Asmardika)