Messahli menerangkan, burqa sebenarnya lebih dari sekadar penutup aurat yang dikhususkan kepada kaum perempuan. Lebih dari itu, burqa adalah simbol kebencian dan sikap merendahkan (misogini) kaum Salafi terhadap perempuan.
Perempuan aktivis Islam berkebangsaan Tunisia tersebut diketahui baru saja pindah ke Swiss. Sudah sejak lama, dirinya vokal mengkritisi pemakaian burqa dan burkini di ruang publik.
“Dengan kata lain, tuntutan untuk memakai burqa dan burkini itu adalah senjata yang dipakai kelompok Islam radikal sebagai teror psikologis. Mereka ingin memberlakukan syariah (hukum Islam) di bawah pemerintahan yang sudah liberal dan demokratis. Dalam hal ini, tujuan terbesar mereka adalah membatasi dan menyisihkan perempuan dari masyarakat,” tukasnya.
Parlemen Swiss baru-baru ini telah selesai melakukan pemungutan suara soal pemakaian burqa di muka umum. Perolehannya sangat tipis, yakni 88 banding 87 suara setuju meloloskan kebijakan yang sebelumnya disinyalir sarat diskriminasi tersebut.
(Silviana Dharma)