Harapannya, dengan tradisi ini, masyarakat diberikan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan. Salah satunya mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia.
“Doa ini untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya dan warga DIY pada khususnya,” jelasnya.
Tradisi labuhan sendiri menarik perhatian masyarakat dan pengunjung Pantai Glagah. Semenjak pagi, ribuan warga dengan antusiasi menunggu proses labuhan. Apalagi juga ada hiburan dengan menampilkan kesenian sholawatan kelompok Kyai Kanjeng Kedung Gonsosari dan pentas angguk putri dari Kulur.
Seorang warga Ida Purwasari mengaku sengaja datang dari rumahnya dari Gamping, Sleman bersama dengan rekannya untuk mengikuti labuhan. Dia pun rela berdesak-desakan untuk mendapatkan ubarampe dari aneka gunungan yang dilarung. Bahkan badannya basah terkena hempasan ombak, ketika berebut uba rampe.
“Ini dapat kacang panjang, nanti untuk dimasak dan disantap bersama keluarga. Semoga mendapatkan berkah,” terangnya.
(Fransiskus Dasa Saputra)