"Ikan juga tidak semua perairan itu ada. Ada di titik tertentu, ada tempat yang banyak makanan ikan sehingga ikan berkumpul. Jadi di titik itu kita beroperasi, kira-kira di titik-titik mana yang rawan nah di situ kita tempatkan," ujarnya.
Potensi eskalasi kegiatan ilegal juga menjadi perhatian Koarmabar dalam mengerahkan personelnya untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah.
"Kita punya eskalasi di mana yang paling potensial timbulnya kegiatan ilegal, misal ikan di perairan Natuna, ya di Natuna kita tempatkan. Terus kemudian kegiatan penyelundupan misalnya di mana, di perairan Singapura misalnya, ya di sana kita tempatkan. Jadi, sesuai eskalasi," ujarnya.
Dalam menjalankan tugasnya, Koarmabar memiliki strategi untuk menjaga keamanan wilayah laut, antara lain dengan memerhatikan eskalasi di mana wilayah yang menjadi potensial terhadap ancaman.
Kemudian, dalam menanggulangi kekurangan armada, pihaknya berkolaborasi dengan sejumlah instansi, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Keamanan Laut (Bakamla), Bea Cukai dan Polisi Perairan (Polair).
(Rizka Diputra)