ESPIRITO SANTO – Ledakan kejahatan mulai dari penjarahan, pemerkosaan dan pembunuhan terjadi di Brasil setelah polisi militer di 30 kota melakukan mogok. Tanpa adanya otoritas keamanan, geng bersenjata menguasai jalan. Mereka mencetuskan berbagai kerusuhan di kota, merampok, menjarah, membunuh dan memerkosa tanpa dapat dihentikan.
Di Kota Espirito Santo, para berandalan berkeliaran di kota membawa pistol dan golok. Mereka merampok dari pusat-pusat perbelanjaan, membakar bus dan meninggalkan mayat-mayat korban di jalan.
Situasi ini menyebabkan sekolah-sekolah ditutup, pertandingan sepak bola dibatalkan dan warga kota memilih tetap berlindung di dalam rumah. Ketakutan yang dialami warga kota di sebelah selatan Brasil itu dapat dilihat melalui informasi yang mereka posting melalui Twitter.
“Polisi militer mogok dan para berandalan menembaki orang siapa pun yang melintas di jalanan di Espirito Santo. Ya Tuhan apa yang terjadi,” kata salah seorang warga sebagaimana dilansir dari Political Outsource, Selasa (7/2/2017).
Warga lainnya mengatakan, “Saya tidak akan meninggalkan rumah saya hari ini, situasi benar-benar gila. Ada orang-orang berlarian membawa senjata api di daerah padat penduduk, puluhan orang menjarah mal, bahkan mayat di jalanan,” ujarnya.
@politioutsource I'm a brazilian resident, I live in Vitória, capital of Espírito Santo and I'm witnessing it all. National media is silent.
— Lucas Coala Bastos (@coalainjapan) February 6, 2017
Kekacauan ini menyebabkan para gubernur dan wali kota di Brasil meminta pemerintah mengirimkan tentara federal untuk memulihkan situasi. Gubernur sementara Espirito Santo telah meminta Presiden Michel Temer untuk mengirimkan tentara nasional dan angkatan bersenjata untuk menjaga keamanan warga kota.
Sejak kekacauan ini, Pemerintah Brasil telah mengatur pertemuan dengan polisi militer untuk membicarakan perbaikan gaji.
Kepala Keamanan Negara Brasil, Andre Garcia mengatakan, kepala kepolisian militer telah dicopot dan digantikan dengan komandan baru yang bertugas mengembalikan ketertiban dan kedisiplinan. Garcia juga menyatakan akan mengajukan tuntutan hukum kepada para polisi atas pemogokan yang melanggar hukum.
“Keinginan kami selalu untuk bernegosiasi, tapi negosiasi ini harus berdasarkan saling menghormati, dan kondisi bagi polisi untuk berpatroli di jalan dan menjawab panggilan dari warga Capixaba, (daerah tempat Espirito Santo berlokasi),” tegas Garcia.
(Rahman Asmardika)