DEMAK - Seorang pria mengaku anggota polisi menghadang saat dua pelajar yang diamankan warga akan dibawa ke kantor polisi karena tawuran di tengah kampung. Dia juga menyatakan satu di antara dua pelajar itu adalah adiknya.
Lelaki yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek itu sempat menolak saat polisi akan mengangkut dua pelajar ke mobil patroli. Dia juga melakukan pembelaan pada pelajar diduga menjadi otak tawuran antarpelajar itu.
Namun, dua anggota polisi yang datang setelah dihubungi warga tetap bertindak tegas. Dua pelajar berseragam Pramuka itu dibawa ke kantor untuk diperiksa. "Kita selesaikan di kantor saja," tegas salah satu anggota polisi.
Tawuran antar dua kelompok pelajar tingkat SMA itu awalnya diketahui oleh Aming Wiretno, di tepi Jalur Pantura, tepatnya Dukuh Gebyok, Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah, Demak. Sepulang mengajar di SDN Karangsari 1, Aming melihat belasan pelajar terlibat baku hantam.
Spontan Guru Olahraga itu langsung mendatangi keributan dan melerai tawuran. Warga sekitar pun berdatangan untuk membantu membubarkan tawuran pelajar. Dua pelajar yang diduga menjadi dalang tawuran berhasil diamankan, sementara yang lain kabur.
"Kalian jangan bikin onar di sini. Kalau masih suka tawuran seperti ini, akan saya laporkan pada polisi," kata Aming pada dua pelajar yang dikelilingi warga.
Aming mengaku tak mengenal dan mengetahui penyebab dua kelompok pelajar itu terlibat perkelahian. Dia hanya prihatin melihat anak-anak muda yang pulang sekolah tak langsung kembali ke rumah, namun justru berbuat onar di tengah kampung.
"Untuk penyebab tawuran, saya tidak tahu pasti. Ya karena panggilan nurani saja sebagai pendidik, kok melihat ada tawuran pelajar, saya langsung melerai mereka dan menyuruh bubar. Kemudian ada warga yang berinisiatif melapor ke polisi," tukasnya.
(Angkasa Yudhistira)