“Pembunuhan harus dicoba. Bahkan jika itu gagal, kita harus beraksi di Berlin,” tutur Tresckow, mengutip dari The Vintage News, Rabu (29/3/2017). Itu adalah satu-satunya cara untuk membuktikan kepada dunia bahwa rezim Hitler dan Jerman tidak menyatu dan tidak sama serta tidak semua orang Jerman mendukung rezim Nazi.
Rencana awal adalah Stauffenberg berada di Berlin sehingga dia bisa memerintahkan seluruh unit tentara di Eropa dalam upaya meyakinkan mereka untuk menangkap pemimpin organisasi politik Nazi seperti Sicherheitsdienst (SD) dan Gestapo.
Sayangnya, Jenderal Helmuth Stieff (Kepala Operasi Komandan Tertinggi Tentara) yang memiliki akses reguler ke Hitler, mundur dari rencana tersebut. Jadilah Claus von Stauffenberg menjalankan dua tugas sekaligus: membunuh Hitler di luar Berlin dan memicu mesin militer di Berlin selama jam kerja di hari yang sama.
(Foto: The Vintage News)
Setelah sejumlah percobaan pertemuan pribadi dengan Hitler gagal, Claus von Stauffenberg berupaya melakukan percobaan pembunuhan di Wolfsschanze pada 20 Juli 1994. Ia masuk ruang rapat dengan membawa sebuah koper berisi dua bom kecil. Lokasi rapat yang dipindah dari Fuhrerbunker ke pondok kayu Albert Speer semakin membuatnya kesulitan.
Claus sempat meninggalkan ruangan untuk mengaktifkan bom, sebuah tugas yang sulit karena dirinya kehilangan lengan kanan dalam peperangan sebelumnya dan di tangan kiri hanya terdapat tiga buah jari. Ketukan dari seorang penjaga membuat von Stauffenberg hanya berhasil mengaktifkan sebuah bom saja.