KISAH: Claus von Stauffenberg, Komandan Rencana Pembunuhan Adolf Hitler

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis
Rabu 29 Maret 2017 08:00 WIB
Claus Von Stauffenberg. (Foto: The Vitage News)
Share :

MENDENGAR nama Claus von Stauffenberg hampir pasti membuat ingatan melayang kepada film ‘Valkyrie’ yang dibintangi oleh Tom Cruise. Tidak salah memang. Sebab, film tersebut dibuat berdasarkan kisah nyata sang perwira Jerman tersebut.

Claus von Stauffenberg sempat digadang-gadang menggantikan Adolf Hitler sebagai Kanselir Jerman oleh Hans Georg Schmidt von Altenstadt pada September 1942. Setahun kemudian, von Stauffenberg menjadi kekuatan utama di balik rencana pembunuhan terhadap Der Fuhrer hingga Juli 20 Juli 1944.

(Foto: The Vintage News)

Ia menganggap Hitler membawa pengaruh buruk bagi Jerman lewat paham Nazi. Dengan bantuan rekannya Henning von Tresckow, von Stauffenberg berhasil menyatukan para konspirator dan mendorong mereka terlibat dalam rencana pembunuhan tersebut.

Claus sepenuhnya sadar bahwa sesuai Undang-Undang Jerman, dia sedang mengkhianati negara yang dicintainya. Namun, ia membela diri dengan menyatakan bahwa apa yang dilakukan ini sesuai dengan hukum alam untuk mempertahankan hidup jutaan orang dari agresi kriminal Adolf Hitler.

Dengan gagah berani, Claus von Stauffenberg memutuskan untuk membunuh sendiri Hitler dan menjalankan rencana itu di Ibu Kota Berlin. Ia sempat ragu akan keberhasilan rencana tersebut. Akan tetapi, Tresckow berhasil meyakinkan dirinya untuk tetap menjalankan rencana meski kemungkinan gagal cukup besar.

“Pembunuhan harus dicoba. Bahkan jika itu gagal, kita harus beraksi di Berlin,” tutur Tresckow, mengutip dari The Vintage News, Rabu (29/3/2017). Itu adalah satu-satunya cara untuk membuktikan kepada dunia bahwa rezim Hitler dan Jerman tidak menyatu dan tidak sama serta tidak semua orang Jerman mendukung rezim Nazi.

Rencana awal adalah Stauffenberg berada di Berlin sehingga dia bisa memerintahkan seluruh unit tentara di Eropa dalam upaya meyakinkan mereka untuk menangkap pemimpin organisasi politik Nazi seperti Sicherheitsdienst (SD) dan Gestapo.

Sayangnya, Jenderal Helmuth Stieff (Kepala Operasi Komandan Tertinggi Tentara) yang memiliki akses reguler ke Hitler, mundur dari rencana tersebut. Jadilah Claus von Stauffenberg menjalankan dua tugas sekaligus: membunuh Hitler di luar Berlin dan memicu mesin militer di Berlin selama jam kerja di hari yang sama.

(Foto: The Vintage News)

 Setelah sejumlah percobaan pertemuan pribadi dengan Hitler gagal, Claus von Stauffenberg berupaya melakukan percobaan pembunuhan di Wolfsschanze pada 20 Juli 1994. Ia masuk ruang rapat dengan membawa sebuah koper berisi dua bom kecil. Lokasi rapat yang dipindah dari Fuhrerbunker ke pondok kayu Albert Speer semakin membuatnya kesulitan.

Claus sempat meninggalkan ruangan untuk mengaktifkan bom, sebuah tugas yang sulit karena dirinya kehilangan lengan kanan dalam peperangan sebelumnya dan di tangan kiri hanya terdapat tiga buah jari. Ketukan dari seorang penjaga membuat von Stauffenberg hanya berhasil mengaktifkan sebuah bom saja.

Ia menaruh koper di bawah meja, sedekat mungkin dengan posisi Hitler. Von Stauffenberg lalu keluar dari ruangan dan pergi. Malangnya, koper itu dipindahkan oleh Kolonel Heinz Brandt dari posisinya.

Setelah melihat ledakan mengguncang pondok kayu tersebut, Von Stauffenberg beserta pengawalnya langsung pergi menuju Berlin dengan menggunakan pesawat. Memang benar, empat orang meninggal dunia dan semuanya luka-luka. Tetapi target utama, Adolf Hitler, hanya menderita luka ringan. Ia berhasil selamat karena terlindungi oleh meja rapat yang sangat solid.

Stauffenberg yang tidak mengetahui kondisi tersebut langsung mendorong teman-temannya untuk mengaktifkan komando kudeta terhadap pemimpin Nazi. Namun, pengumuman dari Joseph Goebbels dan Adolf Hitler lewat siaran radio memupus harapan tersebut. Kudeta militer gagal total.

(Foto: The Vintage News)

Claus von Stauffenberg ditangkap dan dijatuhi hukuman mati bersama ajudannya, Letnan Werner von Haeften; Jenderal Friedrich Olbrich; dan Kolonel Albrecht Mertz von Quirnheim. Ketiganya langsung dieksekusi mati pada tengah malam waktu setempat di sebuah lapangan eksekusi sementara di Bendlerblock.

Claus mendapat giliran ketiga untuk menjemput ajalnya di ujung senapan regu tembak. Namun, ketika giliran itu tiba, Letnan von Haeften berdiri di depannya dan menerima peluru yang seharusnya merobek tubuh Stauffenberg. Tindakan itu hanya menunda waktu kematian untuk beberapa saat.

Ketika gilirannya tiba, Stauffenberg dengan lantang mengucapkan kata-kata terakhirnya. “Hidup Jerman yang murni!” katanya sebelum timah panas mengakhiri waktunya di dunia. Akhir yang tragis bagi seorang komandan gagah berani.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya