Saat memasuki musim panen, hama seperti belalang jumlahnya meningkat drastis karena pemangsa alami mereka telah punah. Dan itu artinya, kampanye membunuh burung gereja menjadi bak senajata makan tuan atau kontra produktif. Produksi biji-bijian di sebagian besar wilayah pedesaan anjlok dan kelaparan besar mulai terjadi. Orang-orang mulai kehabisan makanan dan menyebabkan jutaan dari mereka kelaparan.
Jumlah korban tewas yang secara resmi dirilis Pemerintah China yaitu mencapai 15 juta orang. Namun, beberapa ilmuwan memperkirakan, korban jiwa sebenarnya mencapai 45 juta sampai dengan 78 juta orang. Dan 50 tahun setelah bencana itu terjadi, kelaparan di China kemudian berubah menjadi sebuah cerita mengerikan di mana orang dikabarkan memakan orang lain. Sedangkan orangtua memakan anak mereka atau sebaliknya.
Cerita tersebut dimuat oleh seorang jurnalis China, Yang Jisheng dalam bukunya Tombstone dan memperkirakan terdapat lebih dari 36 juta kematian akibat praktik kanibalisme. Buku Yang tersebut dengan cepat dilarang beredar di China.
Mao kemudian menghentikan kampanye pemusnahan burung gereja dan menggantinya dengan kampanye pemusnahan hama. Tujuan dari kampanye ini adalah untuk meningkatkan output pertanian, namun hasil panen padi justru menurun secara substansial. Mungkin Mao Zedong ingin menaklukkan alam. Namun, kebijakannya itu secara tragis menyebabkan kelaparan di mana jutaan nyawa melayang.
(Rifa Nadia Nurfuadah)