Sebelum Islam masuk di Luwu, warga masih menyembah arwah-arwah nenek moyang dan 'Dewata Sewae'. Pasca masuknya Islam di Luwu, Datuk Sulaiman tak langsung pergi. Dia justru mengajarkan Islam hingga wafat dan dikuburkan di Kecamatan Malangke, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Tepatnya di daerah Pattimang, dan ia pun diberi gelar Datuk Pattimang.
"Kisah itu adalah native yang diwariskan masyarakat Luwu secara turun temurun,dari generasi ke generasi cerita itu tidak banyak versi, palingan urutan adu kesaktian saja yang berubah," tukas peneliti masalah agama tersebut.
Sejarah versi lain pun tidak banyak berbeda, hanya tokoh lawan debat Datuk yang berbeda. Beberapa referensi menjelaskan jika lawan adu sakti Datuk bukan raja Luwu, tapi Tandipau. Namun secara alurnya kisahnya tetap sama.
Hingga kini, jejak Datuk Sulaiman masih terasa di Kabupaten Luwu Utara. Makamnya tetap ramai dikunjungi peziarah. Bahkan nama Datuk Sulaiman dijadikan nama salah satu jalan, untuk mengenang jasa-jasa ulama mashur tersebut.
(Risna Nur Rahayu)