Tercatat terdapat tiga pesawat yang melintas dalam kurun waktu 70 jam, namun tak ada satu pun yang menyadari keberadaan mereka hingga akhirnya Cross dan kawannya berpapasan dengan kapal nelayan Norwegia. Beruntung, pertemuan dengan nelayan tersebut kemudian membawa Cross dan kelima orang lainnya mendapat kehidupan kembali setelah menahan lapar serta haus.
Mereka yang selamat kemudian dilarikan ke sebuah rumah sakit di Kepulauan Faroe, di mana mereka kemudian dirawat karena menderita radang dingin. Meskipun mengalami pengalaman mengerikan dan traumatis, Cross kembali terjun ke medan perang untuk memerangi Nazi baik di pertempuran yang berlangsung di Skandinavia, Afrika Utara, ataupun Eropa barat.
Foto terakhir Sir Kenneth Cross pada 2003 sebelum meninggal. (Foto: BNPS)
Atas pengabdiannya itu, Cross kemudian mendapatkan medali penghargaan. Sepanjang kariernya di militer, banyak warisan berharga yang ditinggalkan oleh Cross, salah satunya sebuah buku harian kecil yang menemaninya saat terombang-ambing di lautan. Sir Kenneth Cross lahir di Portsmouth, Hampshire, pada Oktober 1911. Ia tumbuh menjadi seorang pria yang menyukai olahraga rugbi dan sempat bergabung dalam tim bernama Harlequins sebelum akhirnya perang dunia pecah.
Cross bergabung dengan militer pada 1936 sebagai Letnan Penerbangan yang tergabung dalam Skuadron Udara Universitas Cambridge. Kemudian pada Oktober 1939, pilot muda berbakat itu ditugaskan untuk memimpin skuadron 46. Ia kemudian tergabung sebagai pasukan pelindung HMS Glorius.
Sir Kenneth Cross diketahui meninggal pada 2003. Buku harian kecilnya menjadi salah satu benda bersejarah di Inggris. Cross dikenang sebagai seorang pria hebat yang berhasil bangkit dari sebuah kondisi mengerikan, di mana ia kehilangan hampir semua rekan-rekannya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)