Kelinci liar mulai mengganggu manusia dengan menghancurkan tanaman. Ini tampaknya merupakan ancaman besar bagi hilangnya spesies makhluk hidup di seluruh benua. Dengan memakan tanaman para kelinci itu membuat daratan menjadi kering dan terbuka sehingga rentan terhadap erosi.
Pada 1893, pagar khusus untuk menghalangi kelinci masuk ke wilayah manusia dipasang di Queensland dan terus diperpanjang tiap tahunnya. Namun kelinci selalu menemukan jalannya. Pada akhir abad ke-19, virus mematikan untuk membunuh kelinci ditemukan oleh para ahli di Uruguay. Virus itu disebut dengan Myxomatosis dan memiliki efek mengerikan.
Kelinci yang terkena virus itu akan menderita tumor kulit, kebutaan, dan kelelahan serta demam. Kelinci akan meninggal dalam waktu dua minggu setelah tertular penyakit ini. Penemuan ini dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi teror kelinci di Australia.
Apalagi virus ini akan menular jika hewan saling melakukan kontak langsung. Tes Virus pertama kali disebar pada 1938 di Australia, dan pada 1950 barulah virus ini disebar dalam skala yang penuh di negara lain. Virus Myxo ternyata sangat efektif untuk mengurangi jumlah kelinci yang tadinya 600 juta ekor menjadi 100 juta dalam kurun waktu dua tahun.
Pada 1991, populasi kelinci di Australia mengalami regenerasi, mencapai 200 sampai 300 juta. Tidak seperti di Australia, proyek Myxomatosis gagal di negara tetangga Selandia Baru, tapi berhasil di negara lain. Ketika diperkenalkan di Prancis pada tahun 1950-an, virus ini membunuh 90% kelinci liar di negara ini.
Myxo kemudian menyebar ke seluruh Eropa juga. Di Inggris virus myxo membunuh 99% populasi kelinci. Kisah ini mampu mengingatkan manusia jika bermain dengan alam adalah sesuatu hal yang berbahaya dan selalu ada hal yang tak terduga.
(Rufki Ade Vinanda)