Dampak lainnya adalah kerusakan habitat satwa liar dan penyimpangan pola makan satwa liar karena terpengaruh dengan makanan yang dibawa pengunjung. Pemadatan tanah di sepanjang jalur juga menambah daftar kerusakan. Belum lagi aneka flora yang mati karena terinjak kaki pengunjung.
“Jika diubah menjadi Taman Wisata Alam kerusakan Sempu akan semakin parah,” kata juru bicara aliansi, Agni Paribrata, beberapa waktu lalu.
Ia mencontohkan di kawasan Cagar Alam Ijen yang sebagian wilayahnya fungsinya diubah menjadi Taman Wisata Alam. Ribuan pengunjung mendatangi lokasi itu karena memang dibuka lebar-lebar untuk wisatawan. “Kami tidak menginginkan itu terjadi di Sempu,” kata Agni.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Ayu Dewi Utari akan mengundang semua pihak yang terkait mulai masyarakat, perangkat desa, pemerintah daerah, hingga LSM untuk membahas masalah ini. Dalam pertemuan itu diharapkan ada masukan-masukan terkait pengelolaan Cagar Alam Pulau Sempu. “Minggu ini akan kami undang untuk membahas masalah Sempu,” kata Ayu.
Informasi yang diperoleh Okezone, selama ini memang masyarakat bisa dengan mudah masuk ke Pulau Sempu. Mereka hanya menyewa perahu nelayan untuk mengantarkan ke pulai ini. Keberadaan petugas juga seolah tutup mata, meski mengetahuinya. Padahal, perbuatan itu termasuk melanggar ilegal karena dilarang kecuali untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Selain itu, harus ada izin resmi dari BBKSDA.
(Erha Aprili Ramadhoni)