nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terancam Berubah Fungsi, Ayo Selamatkan Cagar Alam Pulau Sempu!

Hari Istiawan, Jurnalis · Minggu 10 September 2017 10:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 10 519 1772931 terancam-berubah-fungsi-ayo-selamatkan-cagar-alam-pulau-sempu-pSBOCdiXMq.jpg Pulau Sempu, Malang, Jawa Timur (Hari Istiawan/Okezone)

MALANG - Lalu-lalang perahu nelayan yang mengantar wisatawan ke Pulau Sempu, Malang, Jawa Timur, menjadi hal biasa disaksikan. Padahal, status cagar alam disandang pulau seluas 877 hektare ini. Keberadaan petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam di Sendangbiru seolah tak diindahkan.

Arus wisatawan yang masuk area terlarang ini mencapai ribuan setiap tahun. Pihak yang mengelola, dalam hal ini Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) yang berwenang menjaga pulau ini pun berdalih keterbatasan personel di lapangan untuk menjaganya.

Kondisi ini menjadi salah satu alasan bagi Balai Besar KSDA mengusulkan evaluasi kesesuaian fungsi Cagar Alam Pulau Sempu sesuai dengan PP 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.

Data yang diperoleh Okezone, usulan ini juga didasarkan atas beberapa pertimbangan beberapa usulan sebelumnya. Tahun 2011 lalu melalui surat BBKSDA Jatim Nomor S.732/BBKSDA JT 1.1/2011 tertanggal 25 Agustus 2011 mengusulkan perubahan fungsi sebagian kawasan Pulau Sempu menjadi Taman Wisata Alam.

Selanjutnya, tahun 2015, Kepala Desa Tambakrejo membuat surat kepada Bupati Malang perihal permohonan penurunan status Cagar Alam Pulau Sempu sebagian, menjadi Kawasan Wisata Alam Terbatas yang meliputi sepanjang Pantai Waru-waru sampai Telyk Semut, Pantai Barubaru, Pantai Selatan, dan Laguna Segara Anakan. Surat ini ditandatangani Kepala Desa Tambakrejo yang waktu itu masih dijabat Sudarsono.

Tahun 2016, Kepala BB KSDA Jatim mengusulkan Evaluasi Kesesuaian Fungsi CA Pulau Sempu melalui surat dengan nomor S.456/BBKSDA.JAT-2.2/2016 tertanggal 13 Oktober 2016.

 

Pintu masuk Pulau Sempu (Hari/Okezone)

Direktur Pemolaan dan informasi Konservasi Alam (PIKA) mengundang pembahasan usulan EKF. Dan Menteri LHK membentuk tim teknis EKF CA Sempu dengan SK 320/MENLHK/KSDAE/KSA.0/7/2017 tanggal 10 Juli 2017.

Surat ini kemudian ditindaklanjuti dengan pengumpulan data lapangan mulai tanggal 21-26 Agustus dan saat ini sedang penyusunan laporan rekomendasi.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Ayu Dewi Utari saat dikonfirmasi mengenai hal ini mengatakan, kalau tim teknis sedang dalam tahap penyusunan laporan rekomendasi.

Namun, Ayu juga meluruskan bahwa, kajian dari tim teknis akan dihasilkan beberapa rekomendasi, yaitu pemulihan ekosistem jika kondisi ekologi dan sosial masih layak atau diubah fungsinya jika tidak layak.

"Hasilnya akan dilaporkan ke dirjen kemudian disampaikan ke menteri," kata Ayu saat ditanya Okezone, beberapa waktu lalu.

Aliansi Peduli Cagar Alam Sempu menegaskan penolakan rencana perubahan fungsi dan/atau penurunan Status Cagar Alam Sempu menjadi Taman Wisata Alam.

Juru bicara Aliansi Peduli Cagar Alam Sempu, Agni Istighfar Paribrata menyampaikan, kondisi Pulau Sempu saat ini membutuhkan penguatan perlindungan kawasan cagar alam sehingga tidak ada alasan untuk menurunkan status Cagar Alam Pulau Sempu.

"BBKSDA menggunakan alasan masyarakat butuh income dari sana sangat tidak masuk akal," kata Agni saat dihubungi Okezone.

Di sekitar Pulau Sempu banyak tempat wisata yang bisa dikelola dengan melibatkan banyak masyarakat seperti Pantai Sendangbiru, Tamban, Pantai Tiga Warna, Pantai Sediki dan juga sepanjang pesisir selatan Malang adalah pantai.

"Itu semua bisa melibatkan masyarakat, kenapa malah membuka Sempu. Ada apa?, kata Agni bertanya-tanya.

Semestinya BBKSDA serius menegakkan melindungi Cagar Alam. Juga melibatkan semua pihak untuk mendukungnya termasukengedukasi masyarakat sekitar dan pemilik perahu agar tidak menyeberangkan orang yang ingin masuk ke Pulau Sempu kecuali dengan izin penelitian.

ProFauna juga mendukung sikap Aliansi Peduli Cagar Alam Sempu. ProFauna khawatie penurunan status akan memperparah kelestarian satwa liar dan flora yang ada di sana.

"Ini langkah mundur konservasi alam di Indonesia," kara Rosek Nursahid, Ketua ProFauna Indonesia dalam rilisnya.

Menurutnya, tekanan yang terjadi di Pulau Sempu tidak bisa menjadi pembenaran agar cagar alam ini diturunkan statusnya, justru seharusnya harus ditingkatkan perlindungannya.

"Solusinya bukan dengan menurunkan statusnya, tetapi dengan semakin memperkuat upaya perlindungannya,” kata Rosek.

Penetapan Pulau Sempu sebagai kawasan Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu ditetapkan berdasarkan SK. GB No. 46 Stbl. 1928 No. 69 tahun 1928 dengan luas 877 Ha. Pulau Sempu

ditetapkan sebagai cagar alam karena mempunyai keunikan alam dan kekayaan hayati yang tinggi yang diperuntukan bagi penelitian dan ilmu pengetahuan.

Status Pulau Sempu adalah cagar alam yang menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, ditegaskan bahwa kegiatan yang diperbolehkan di cagar alam adalah kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Informasi dari situs BBKSDA Jawa Timur menyebutkan Cagar Alam Pulau Sempu memiliki beberapa tipe ekosistem, mulai dari hutan pantai, mangrove, dan hutan tropis dataran rendah yang hampir mendominasi keseluruhan area pulau.

Jenis vegetasi yang dapat ditemukan di seluruh area Pulau Sempu antara lain bendo (Artocarpus elasticus), triwulan (Terminalia), wadang (Pterocarpus javanicus), dan Buchanania arborescens.

Tutupan vegetasi sampai saat ini masih sangat baik. Vegetasi hutan pantai didominasi olehBaringtonia raceunosa, nyamplung (Calophylum inophylum), ketapang (Terminalia catappa), waru laut (Hibiscus tiliaceus) dan pandan (Pandanus tectorius). Terdapat 4 (empat) jenis vegetasi mangrove yang dapat dijumpai, yaitu bakau ditemukan dua jenis (Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata), api-api (Avicennia sp.) dan tancang (Bruguiera sp).

Sedangkan jenis satwa liar yang terdapat di kawasan CA Pulau Sempu antara lain : lutung jawa (Tracypithecus auratus), kera hitam (Presbitis cristata pyrrha) , kera abu-abu (Macaca fascicularis), babi hutan (Sus sp), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanicus), raja udang (Alcedo athis), ikan belodok (Periopthalmus sp), kepiting (Ocypoda stimsoni), dan kelomang (Dardanus arropsor), kupu-kupu (Sastragala sp) dan semut (Hymenoptera).

Keunikan dan kekhasan kawadan ini karena memiliki beberapa tipe ekosistem antara lain tipe ekosistem hutan mangrove, hutan pantai dan hutan hujan tropis dataran rendah. Keunikan lain adalah ekosistem Segara Anakan yang merupakan danau di dalam kawasan yang airnya berasal dari air laut yang melewati celah/ karang berlubang (bolong).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini