JAKARTA - Deru mesin truk memecah malam hari tanggal 30 September 1965. Tiga unit truk pengangkut pasukan Cakrabirawa itu berjalan beriringan menuju kediaman Letnan Jenderal Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Malam itu, ajal datang bersama rombongan serdadu untuk menjemput sang jenderal yang dikenal sebagai perunding ulung itu.
M.T. Haryono dikenal memiliki pembawaan yang tenang dan bersahaja. Selain itu, kemampuannya menguasai tiga bahasa asing, yakni Belanda, Inggris dan Jerman membuat diriya menjadi salah satu sosok terpenting dalam berbagai agenda perundingan yang dilakukan pemerintah Indonesia.
Salah satu perundingan termashyur yang melibatkan peran M.T. Haryono adalah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949, dimana dirinya ketika itu menjabat posisi sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia. Setelah KMB yang berbuah pada pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1950, M.T. Haryono diangkat sebagai Atase Militer Indonesia di Belanda. Sejak itu, karir M.T. Haryono terus menanjak, hingga diangkat sebagai Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan pangkat mayor jenderal pada 1 Juli 1964.
Singgungan Dengan PKI
Menjabat posisi Men/Pangad ketika itu, pemikiran-pemikiran M.T. Haryono seringkali bersinggungan dengan gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ketika itu memiliki pengaruh cukup besar di tengah masyarakat.
Salah satu singgungan yang disebut-sebut sebagai pemicu sentimen negatif PKI terhadap sosok M.T. Haryono adalah ketika M.T. Haryono dengan tegas menolak gagasan PKI yang hendak mempersenjatai para buruh dan kaum tani yang kemudian dikenal sebagai Angkatan Ke-lima. Seperti sebagian besar perwira lain di Angkatan Darat, M.T. Haryono melihat adanya potensi bahaya dari gagasan pembentukan Angkatan Ke-lima itu. Sejak itulah M.T. Haryono kemudian dijadikan target pembunuhan PKI.